Senin, 13 April 2026

Restrukturisasi Industri Unggas Harus Mulai dari Kandang

Konsumsi ayam secara nasional mencapai 7 kilogram per kapita per tahun.

Editor: Budi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Bulan Februari 2007 lalu , Pemerintah Kabupaten Subang mulai terganggu dengan wabah flu burung. Dinas Peternakan setempat menyatakan bahwa Subang berada dalam bahaya flu burung karena terdapat 17 ribu unggas mati secara mendadak.

Wilayah di mana unggas mati terjadi di 12 kecamatan di Subang. Dampak dari wabah ini dalam kehidupan sosial dan ekonomi suatu masyarakat dapat meluas menjadi panik, kekacauan, dan sektor lain secara nasional pun terganggu; seperti pariwisata, dan ekonomi sosial.

Seorang pengusaha Asep Sulaiman Subanda, misalnya, mengklaim
kerugian sebesar Rp 2,5 miliar. Berdasarkan catatan Dinas Peternakan Subang, ekspor unggas di Subang mengalami kenaikan di tahun 2005. Mereka mengekspor unggas ke Bangladesh, Malaysia, Turki dan
Thailand. Selain itu, Subang terdaftar sebagai daerah yang menyumbang 10 persen dari industri unggas nasional dan 50 persen di seluruh Jawa Barat.

Saat itu, kemampuan kabupaten di bagian utara Jawa Barat telah memproduksi unggas sebanyak 1,3 juta ayam, dan 1,2 juta jenis unggas lain.

Kematian ayam ini mengganggu tingkat konsumsi. Konsumsi ayam
secara nasional mencapai 7 kilogram per kapita per tahun. Permintaan yang tinggi untuk daging ayam dapat dilihat selama musim liburan atau perayaan keagamaan.

Sebagai contoh pada bulan Agustus 2011 menjelang perayaan Idul Fitri, kebutuhan untuk daging ayam sebesar 244.710 ton. Pada bulan yang sama tahun lalu, Pusat Informasi Pasar Unggas (PINSAR) mencatat bahwa konsumsi daging ayam hanya sekitar 150 ribu ton per bulan.

"Artinya, ada peningkatan 170 persen" kata Hartono, Ketua PINSAR. Data menunjukkan bahwa unggas merupakan bisnis yang menguntungkan. Tapi bagaimana bisnis ini bisa bertahan dari berbagai ancaman penyakit seperti flu burung?

Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan perusahaan dari Jepang Shigeta Animal Pharmaceutical mengembangkan vaksin H5N1 dengan
menggunakan Reverse Genetic Technology. Mereka membuat vaksi pembasmi virus H5N yang sangat patogen (sangat ganas) menjadi patogen (mematikan).

Menurut Peneliti IPB, Kamaluddin Zarkasie, DVM, PhD. upaya itu hanya bentuk baru dari pengembangan vaksin untuk mengontrol karena virus selalu bermutasi.

"Salah satu faktor mutasi adalah faktor perubahan lingkungan
itu sendiri," kata peneliti yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PT Industri SHIGETA Vaksin Hewan IPB.

Kamaluddin menyarankan untuk melakukan tindakan bio-sekuriti.

Langkah ini adalah cara untuk membatasi perkembangan virus flu burung. Masalah bio-sekuriti telah ada sejak wabah flu burung terjadi di Indonesia. "Fokus dari penanganan kasus ini adalah bagaimana
mengontrolnya. Sebagai contoh, menetapkan standar bio-sekuriti
di industri unggas," katanya.

Bio-sekuriti di peternakan unggas digambarkan sebagai manajemen
peternakan untuk mencegah organisme patogen (pembawa penyakit) menyebar ke lokasi peternak.

Manajemen pertanian berisi tiga langkah penting: isolasi,
kontrol lalu lintas di dalam peternakan dan sanitasi. Tindakan ini diperlukan agar unggas tetap sehat dalam kandang.

Isolasi dilakukan pada unggas yang terinfeksi. Bahkan, jika
perlu, isolasi dapat dilakukan ke seluruh peternakan ketika menemukan keberadaan kematian unggas secara mendadak. Isolasi juga dilakukan pada akses hewan liar seperti burung-burung liar. Pemeliharaan
unggas di wilayah terbuka agar tidak berinteraksi dengan burung
liar banyak diterapkan di negara-negara maju seperti Austria, Kanada, Perancis, Jerman, Belanda, Norwegia dan Swedia.

Di Italia dan Swiss, peternak harus memelihara unggas di lokasi
yang dilindungi atau atau dilapisi oleh atap kawat. Beberapa negara lain juga menetapkan larangan pada unggas dalam keadaan terbuka selama musim migrasi burung,

seperti Slovenia dan Kroasia. Sementara Hong Kong melarang peternakan unggas berdekatan dengan daerah pemukiman. Artinya, tidak boleh ada peternakan di halaman belakang. Peternakan haru diisolasi jauh dari pemukiman.

Manajemen bio-sekuriti juga terkait dengan lalu lintas manusia
ke daerah pertanian. Peternak harus menjadwalkan perawatan rumah seperti penyebaran benih, pakan, vaksin, sekam, dan kotak telur ke dalam pertanian untuk mengelola panen.

Terakhir adalah tindakan sanitasi. Sanitasi adalah suatu
tindakan pencegahan untuk membunuh patogen atau kuman. Sanitasi yang paling sering dilakukan oleh peternak adalah penyemprotan kandang menggunakan cairan disinfektan. Petugas di dalam kandang juga
harus dibersihkan saat memasuki kandang.

Wacana bio-sekuriti telah menjadi perhatian Pemerintah
Kabupaten Subang. Mulai tahun ini, Dinas Peternakan Kabupaten Subang rajin memantau kegiatan pencegahan tersebut.
Mereka juga bekerjasama dengan pihak ketiga seperti Kemitraan

Indonesia Belanda (IDP dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Pemerintah pun menargetkan pada kelompok petani sebagai target sosialisasi pengelolaan keanekaragaman hayati.

"Hasil kerjasama yang baik ini sudah terbangun dan sudah bisa
dirasakan oleh masyarakat. Hal ini terbukti saat ditemukannya kasus flu burung di Subang," kata Kepala Kantor Peternakan Kabupaten Subang Djaja Ruchiyat.

Djaja mengakui hasil sosialisasi tersebut cukup bagus. Beliau
mengutip bahwa pada akhir 2010 produksi ayam mencapai 30 juta per tahun; oleh 1030 mitra peternak unggas dan 168 peternak mandiri. Produksi ayam mencapai 1,5 juta per tahun.

Basis terbesar dari produksi daging ayam saat ini di wilayah Priangan, Subang, dan Purwakarta.

Tapi ternyata bio-sekuriti saja tidak cukup. Pencegahan flu
burung juga dikaitkan dengan pola perdagangan dan distribusi unggas. Idealnya, perdagangan harus dalam bentuk daging unggas yang telah diproses di rumah potong. Dengan cara itu, jarak dari rumah potong
harus berdekatan dengan peternakan agar tidak menyulitkan
peternak dalam hal distribusi.

"Apa yang belum dipecahkan adalah bagaimana mengurangi perdagangan unggas hidup secara langsung di pasar," kata Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB Prof Dr I Wayan Teguh Wibawan.

Perdagangan unggas hidup yang paling mungkin menularkan virus
dibandingkan dengan perdagangan dalam bentuk potongannya (daging yang akan dikonsumsi). Dalam kotoran dan potongan ayam yang terinfeksi, virus flu burung dapat bertahan hidup lebih lama
dengan masa inkubasi tiga hari, sedangkan untuk ternak dapat
mencapai 14-21 hari.

Langkah pertama untuk menghadapi kasus flu burung harus dimulai
dari dalam kandang atau peternakan. Sebagai contoh, setiap hari penjaga peternakan atau disebut "anak kandang" mengontrol setiap kandang ayam secara teratur, baik siang maupun malam. Jika ada ayam yang "mendengkur", maka mereka akan dipisahkan dari kelompoknya untuk
mengantisipasi berjangkitnya pengaruh beberapa bakteri. Jika ada indikasi flu burung, maka ayam harus dimusnahkan.

Selain itu, penting untuk mendidik masyarakat agar tidak
membuat asumsi bahwa setiap peternakan dapat dijangkiti flu burung. Sekarang, sosialisasi bagi masyarakat terus
ditingkatkan.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved