Minggu, 7 Juni 2026

Curhat Dr Warsito Purwo Taruno Saat Dipaksa Hentikan Riset Soal Kanker

Perjuangan Warsito Purwo Taruno dalam mengembangkan penelitian guna menanggulangi kanker, penuh liku.

Tayang:
Facebook/Warsito Purwo Taruno
Prinsip kerja dan perkembangan riset alat ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography) serta ECCT (Electro-Capacitive Cancer Therapy), DR Warsito Purwo Taruno dari tahun ke tahun. 

TRIBUNNEWS.COM - Perjuangan Warsito Purwo Taruno dalam mengembangkan penelitian guna menanggulangi kanker, penuh liku.

Kisah itu ia tuliskan dalam sebuah tulisan di postingan akun facebook miliknya, Senin (30/11/2015).

Pada tanggal itu juga, Warsito mengaku mendapat surat untuk menghentikan risetnya tersebut dari sebuah instansi yang berwenang.

Warsito yang tenar dengan alat ECCT (Electro-Capacitive Cancer Therapy) tersebut, dalam kisahnya mengakui alat yang teknologinya sudah dipakai NASA dalam bidang keantariksaan tersebut memang masih kontroversial.

Alat yang tengah dikembangkan Warsito diketahui memang mendapat penolakan dari sejumlah instansi medis. Pria 48 tahun tersebut menutup kisahnya lewat sebuah pertanyaan, "Tak ada tempat buat saya di Indonesia?"

Berikut curhatan Warsito Purwo Taruno di akun facebooknya saat risetnya yang harus dihentikan oleh sebuah lembaga:

12 tahun yang lalu hari-hari ini, saya kehilangan data riset saya hasil kerja selama 15 tahun. Komputer laptop terakhir saya 'crash' setelah berhari-hari menjalankan program rekonstruksi data pemindaian. Sebelumnya 2 komputer lain yang menyimpan data backup hangus tersambar petir, 2 lagi juga 'crash' terlebih dahulu karena tak mampu menjalankan program.

Ketika baru memulai membina riset di Indonesia selama 6 bulan, langit bagaikan runtuh, seolah-olah mengatakan: "Tak ada tempat buat saya di Indonesia."

Tak ada 'shock' yang lebih berat dari itu yang pernah saya alami dalam hidup saya hingga membuat saya seminggu lebih tak mampu keluar rumah.

Tetapi hal itu tak merubah niat saya untuk mencoba membangun riset di Indonesia. Dari puing-puing akhirnya ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography) lahir, hari-hari ini 12 tahun yang lalu di sebuah ruko di Tangerang.

Tahun berikutnya paten ECVT didaftarkan di PCT. 3 tahun kemudian 'granted'. Tahun 2006 ketika polemik sedang panas-panasnya tentang ECVT, NASA memakainya untuk pengembangan sistem pemindaian di pesawat ulang-alik.

2007 jurnal ECVT terbit di IEEE Sensors Journal, dengan alamat Fisika UI. 2008 Dept Energi Amerika memakainya sebagai model sistem pemindaian untuk pengembangan 'Next generation power plant' dan untuk verifikasi hasil simulasi supercompter skala penta-eksa.

Di Indonesia ECVT berkembang lebih banyak ke aplikasi di bidang medis, bekerja-sama dengan Fisika Medis UI, Biofisika ITB, Biologi IPB, Litbangkes, Metalurgi Untirta, Kedokteran Unair, Biomedik UIN, Biomedik ITS, Univ. Kyoto dan lain sebagainya.

Di Indonesia lahirlah teknologi pertama di dunia: Breast ECVT untuk screening breast cancer secara 4D dan instant, serta Brain ECVT untuk pemindaian aktifitas otak secara 4D dan real time.

Salah satu turunan teknologi ECVT adalah aplikasi untuk terapi kanker, ECCT (Electro-Capacitive Cancer Therapy), didaftarkan paten Indonesia 2012. ECCT dan ECVT adalah setara dengan radioterapi untuk terapi dan CT scan untuk pemindai dengan sumber gelombang elektromagnet pengion. Bedanya ECVT dan ECCT memanfaatkan sifat dasar biofisika sel dan jaringan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved