Merokok Tidak Kurangi Stres, Justru Membuatnya Tambah Buruk
Anda seorang perokok? Banyak orang menyatakan kebiasaan merokok dapat mengurangi rasa cemas, gugup, stres atau bahkan depresi
TRIBUNNEWS.COM - Anda seorang perokok? Banyak orang menyatakan kebiasaan merokok dapat mengurangi rasa cemas, gugup, stres atau bahkan depresi. Namun, satu penelitian dari University College London dan Brittish Heart Foundation (BHF) mengatakan sebaliknya.
Merokok ternyata bisa jadi satu tanda terganggunya kesehatan mental.
Dalam penelitiannya baru-baru ini, mereka memeriksa hampir 6.500 orang di atas usia 40 tahun di Inggris. Mereka menemukan fakta, 18 persen perokok dilaporkan mempunyai tingkat kecemasan dan rasa depresi yang tinggi.
Dibanding bukan perokok dan eks-perokok, jumlah tersebut cukup besar. Sebab tingkat kecemasan dan depresi non-perokok dilaporkan hanya 10 persen, sementara mantan perokok memiliki tingkat kecemasan hanya 11,3 persen.
Mike Knapton, Asisten Direktur Kesehatan BHF mengatakan, persepsi umum bahwa merokok dapat mengurangi stres sudah menjadi kesalahpahaman. Hal yang sebenarnya terjadi ketika seseorang menyalakan rokok, menurutnya, adalah pengingkaran.
“Pengingkaran ini hampir mirip dengan stres. Pada mulanya rokok dapat mengurangi gejala tersebut, dan Anda akan berpikir inilah yang membuat diri merasa lebih baik. Namun, semua itu hanyalah gejala awal dari kecanduan nikotin. Sudah tentu siklus ini berlangsung terus-menerus pada setiap batang rokok yang dinyalakan,” ujarnya.
BHF juga mengungkapkan 3 perokok di seluruh Inggris mengklaim tidak dapat berhenti merokok, karena mereka percaya kebiasaan ini dapat mengurangi kecemasan dan stres.
Padahal, lanjut Knapton, hal itu sebenarnya sama sekali tidak benar. “Jika Anda berpikir merokok dapat menanggulangi rasa stres, itu tidak benar. Justru sebaliknya, itu hanya membuatnya tambah buruk,” tegasnya.
Untuk dapat berhenti dari kebiasaan merokok tentunya dapat dilakukan berabgai macam cara. Michael Roizen, M.D, penulis buku ‘This Is Your Do-over’ dan petugas di Cleveland Clinic mengatakan, kuncinya adalah melakukan kebiasaan sehat lain yang sama nikmatnya dengan merokok.
“Kenikmatan yang Anda dapatkan dari rokok tidak membantu, karena itu berdampak buruk pada tubuh,” kata Roizen.
“Lebih baik Anda pikirkan cara lain yang memberikan kenikmatan yang tidak merusak atau berkontribusi pada penyakit. Pikirkan hal tersebut sambil mencari kegiatan yang menyenangkan Anda. Misalnya berolahraga, berbincang dengan teman atau memasak. Itu dapat membantu, apalagi jika kondisi sedang mengarah pada depresi,” lanjutnya.
Merokok memang diketahui sebagai penyebab utama beragam penyakit berbahaya. Kanker paru-paru dan gangguan hati hanyalah salah satu di antaranya. Centers for Disease Control and Prevention, sebuah agen federal Amerika Serikat di bidang kesehatan menyatakan, rokok menyebabkan satu dari lima kematian di negara Paman Sam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/stres-berat_20150306_174530.jpg)