Senin, 25 Mei 2026

Pasutri Perancis Jalani Program Bayi Tabung di RSUP Dr Sardjito

Rumah Sakit Dr Sardjito saat ini satu-satunya rumah sakit pemerintah yang masih melakukan pelayanan bayi tabung.

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Dewi Agustina
Shutterstock
Ilustrasi bayi tabung. 

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Rumah Sakit Dr Sardjito saat ini satu-satunya rumah sakit pemerintah yang masih melakukan pelayanan bayi tabung.

Sejak tahun 1997, tidak kurang 200 bayi telah lahir di RS terbesar di Yogyakarta itu.

Bahkan, warga negara asing maupun warga Papua menjalankan program bayi tabung.

"Kita pernah menerima pasien dari Perancis untuk melakukan program bayi tabung," kata Direktur Utama RSUP Dr Sardjito dr M Syafak Hanung Sp A saat menerima kunjungan pers tour wartawan Kementerian Kesehatan di Yogyakarta, Rabu (20/5/2015).

Melalui Klinik Infertilitas Permata Hati, RSUP Dr Sardjito akan terus mengembangkan berbagai teknologi terbaru tentang bayi tabung dengan menggandeng RS di luar negeri.

Disinggung mengenai biaya pelayanan bayi tabung, Syafak menyebutkan besarannya mencapai Rp 60 juta.

bayi tabung
Ilustrasi bayi tabung

Bayi tabung hanya salah satu dari program layanan yang mengelola pasangan dari metode sederhana hingga canggih yang saat ini terkenal di dunia.

Program Permata Hati RSUP Sardjito juga melayani injeksi sperma intra sitoplasma, simpan beku embrio, ovum dan sperma, program IVM dan sebagainya.

Poliklinik Permata Hati ini ditangani tim infertilitas yang ahli di masing-masing bidang seperti ahli endokrinologi reproduksi, ahli kebidanan dan penyakit kandungan, ahli biakan jaringan.

Permata Hati yang merupakan kependekan dari Persiapan Melahirkan Anak Tabung Harapan Suami Istri juga memiliki ahli andrologi, ahli imunoiogi reproduksi, psikologi dan sebagainya.

Program Bayi Tabung

Program bayi tabung menjadi alternatif terakhir bagi pasangan suami-istri (pasutri) yang sulit mendapat anak.

Ahli spesialis kesuburan, Prof dr Samsulhadi SpOG (K) menyatakan biaya program bayi tabung dibagi dua bagian, yaitu biaya peralatan dan biaya obat.

Mayoritas dana ini digunakan untuk membayar obat.

“Kalau untuk obat saja sekitar 60 persen. Sisanya untuk peralatan,” kata Samsul kepada Surya.co.id(Tribunnews.com Network), Minggu (11/1/2015).

Makanya Samsul tidak dapat memastikan jumlah pasti biaya yang dibutuhkan untuk program bayi tabung.

Besarnya dana ini belum menjamin program bayi tabung berhasil.

Dalam beberapa kasus, pasutri tetap tidak bisa mendapat buah hati melalui program ini. Menurutnya, faktor keberhasilan tergantung usia pasien.

Pasien yang berusia antara 20-35 tahun tingkat keberhasilannya mencapai 45 persen.

Tapi usia subur juga belum menjamin program ini berhasil.

Bila sel telur tidak bisa bertemu dengan sperma, dipastikan pasutri harus mengulang program ini.

Biasanya pasien hanya sekali datang ke dokter untuk menjalani program ini.

“Alasannya, mahal. 90 persen pasien tidak kembali lagi,” tambahnya.(Eko Sutriyanto)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved