Ahli Gizi: Banyak Studi Bertahun-tahun Simpulkan MSG Aman
Pada aturan itu pun, acceptable daily intake (ADI) atau batas asupan harian dalam mengonsumsi MSG dinyatakan not specified atau secukupnya.
Ia menjelaskan "sindrom aneh" yang ia alami saat makan di restoran Cina, antara lain mati rasa, lemah, serta jantung berdebar, dan berspekulasi tentang beberapa kemungkinan penyebabnya, termasuk kecap, anggur masak, kandungan sodium tinggi, dan tentu saja MSG.
Pada kesimpulannya, Dr. Kwok menyarankan dan meminta bantuan para rekan peneliti untuk melakukan penyelidikan ilmiah terkait fenomena ini.
Sayangnya, surat untuk editor yang benar-benar tidak berbahaya ini menandai munculnya gagasan, yang tidak didukung bukti, bahwa MSG mengakibatkan "Sindrom Restoran Cina".
Pada kenyataannya, setelah dilakukan penelitian selama bertahun-tahun, ada atau tidaknya Sindrom Restoran Cina masih belum terbukti.
Namun secara ilmiah telah terbukti bahwa jika sindrom ini memang ada, pastinya tidak terkait dengan MSG.
Bukti terakhir dipublikasikan oleh Dr. Geha pada tahun 2000, yang menyimpulkan bahwa penambahan MSG pada makanan tidak mengakibatkan Sindrom Restoran Cina.
Meskipun demikian, beberapa dekade kemudian, rumor ini belum sepenuhnya hilang.
Dari Tikus dan Manusia
Tidak lama kemudian, pada tahun 1969, sebuah studi mengkhawatirkan dipublikasikan dalam jurnal Science oleh Dr. J.W. Olney, dimana MSG dengan dosis tinggi disuntikkan ke tikus yang baru lahir dan mengakibatkan kerusakan otak.
Namun sekali lagi, laporan ini ternyata salah karena dua alasan penting.
Pertama, jumlah MSG yang diberikan dalam studi tersebut sangat tinggi yang sama dengan memakan MSG sebanyak tiga botol (puluhan hingga ratusan gram/per botol) untuk manusia dewasa.
Kedua, dan yang lebih penting, terdapat perbedaan fisiologi yang besar antara manusia dan tikus yang baru lahir, yang diabaikan dalam studi tersebut.
Mamalia memiliki " Selaput Pelindung Otak/ Blood Brain Barrier (BBB)" yang melindungi otak dari sel, partikel, dan molekul tertentu yang terdapat dalam aliran darah.
Pada tikus yang baru lahir, selaput pelindung otak belum berkembang.
Namun primata, termasuk manusia terlahir dengan selaput pelindung otak yang lebih berkembang. Artinya, hasil yang diamati pada tikus dalam studi ini tidak mencerminkan hal yang terjadi pada manusia.
Oleh karena itu, studi berikutnya yang dilakukan oleh Dr. Takasaki (1979) dan Dr. Helms (2017) menunjukkan bahwa konsumsi normal MSG makanan tidak memiliki efek negatif terhadap otak.
Dr. Johanes juga membantah berbagai mitos tidak beralasan yang ditujukan pada MSG, menurutnya anggapan jika mengkonsumsi MSG dapat membuat orang menjadi bodoh hanyalah isapan jempol belaka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140916_111320_penyedap-rasa-atau-msg.jpg)