Senin, 1 Juni 2026

Olahraga Kurangi Risiko Depresi

Banyak penelitian menemukan, aktivitas fisik berkorelasi terhadap penurunan risiko berkembangnya depresi dan memberikan efek positif kepada pelakunya.

Tayang:
Editor: Willem Jonata
pixabay.com/RyanMcGuire
Olahraga lari di lintasan 

Olahraga menunjang terapi depresi

Olahraga bukanlah obat masalah kesehatan mental. Depresi juga bisa menjadi rintangan untuk melakukan aktivitas fisik.

Selain temuan dari studi JAMA, banyak bukti anekdot yang menemukan bahwa banyak penderita depresi menemukan dirinya sulit untuk berolahraga.

Beberapa alasannya adalah efek antidepresan seperti kelelahan dan kenaikan berat badan, serta sulit mengumpulkan energi untuk berolahraga.

Meski bukan solusi untuk menyembuhkan depresi, namun sejumlah studi menunjukkan, olahraga punya dampak terhadap depresi.

Sebuah ulasan tentang sejumlah studi menemukan, aktivitas fisik, khususnya latihan ketahanan seperti angkat beban, bisa mengurangi gejala depresi.

Bagi sejumlah orang, mungkin sama efektifnya dengan perawatan konvensional seperti terapi perilaku kognitif, dan obat-obatan.

Studi-studi lainnya menemukan, tipe olahraga lain juga punya efek serupa, misalnya kardio atau yoga.

Meskipun masih tidak jelas bagaimana mendapatkan efeknya, namun para peneliti mengungkap sejumlah teori.

Olahraga keras, seperti angkat beban dan lari, bisa meningkatkan aliran darah ke otak, memiliki kecenderungan berubah struktur, dan memperbaiki sel.

Olahraga juga bisa memicu pelepasan endorfin atau hormon bahagia. Nah, tipe yoga yang menekankan kerja pernafasan dan pikiran juga punya efek serupa.

Tak perlu olahraga "brutal" untuk melihat perubahan

Riset menemukan, olahraga ringan pun mempunyai dampak terhadap kesehatan fisik dan mental. Stoller, penulis studi JAMA terbaru mencontohkan, misalnya memilih lari 15 menit ketimbang hanya duduk santai.

Atau, memilih jalan cepat selama satu jam ketimbang duduk santai selama satu jam. "Level aktivitas bisa memberikan perbedaan," kata Stoller.

Menggunakan data lebih dari 1,2 juta warga Amerika Serikat dewasa, sebuah studi yang lebih luas pada 2018 menemukan kesimpulan serupa.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved