Eksklusif Tribunnews

Dankjoedin Berlari Suarakan Antidiskriminasi kepada Orang dengan HIV

Tujuan hidup dan dukungan diyakini Dankjoedin penting bagi para orang dengan HIV (odhiv) untuk bangkit dari keterpurukan

Dankjoedin Berlari Suarakan Antidiskriminasi kepada Orang dengan HIV
Tribunnews/JEPRIMA
Penderita Orang Dengan HIV (ODHIV) Endang Jamaludin saat ditemui oleh tim Tribunnews di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019). Endang Jamaludin melakukan aktvitas berlari sekaligus untuk mengkampanyekan Run For Zero Discrimination Terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tiga kali dinyatakan positif saat tes human immunodeficiency virus (HIV) sempat meruntuhkan semangat Endang Jamaludin mengarungi hidup. Mata pria yang akrab disapa Dankjoedin ini memandang jauh ke langit-langit mengingat kenangan terjerumus narkoba.

Lima tahun lalu, Dankjoedin menjadi pemakai narkotika jenis heroin atau putaw. Perceraian di tahun 2013 menjadi awal mula dirinya mulai menyuntikkan narkotika ke tubuh.

Kota Gudeg, Yogyakarta, menjadi pelarian Dankjoedin dari Cianjur, Jawa Barat pascamasalah rumah tangga yang menerpa. Dankjoedin pertama kali mengetahui positif HIV saat nongkrong di Alun-alun Kidul, Yogyakarta dari tes gratis yang dilakukan Yayasan Vesta Indonesia. Meski positif HIV, Dankjoedin merasa masalah hidup yang dijalani lebih berat daripada status terjangkit HIV.

"Jadi tekanan mental saya saat itu lebih berat daripada status positif HIV. 'Oh saya positif, ya sudah, gitu saja.'," ujar Dankjoedin kepada Tribun Network, Rabu (27/11/2019).

Tak adanya edukasi dan informasi terkait HIV membuat Dankjoedin abai akan status yang disandangnya. Hingga 2016, narkotika masih kerap masuk ke aliran darah Dankjoedin. Dia menjalani tes HIV sebanyak dua kali lagi lantaran tak percaya positif terinfeksi virus HIV.

Penderita Orang Dengan HIV (ODHIV) Endang Jamaludin saat ditemui oleh tim Tribunnews di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019). Endang Jamaludin melakukan aktvitas berlari sekaligus untuk mengkampanyekan Run For Zero Discrimination Terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). Tribunnews/Jeprima
Penderita Orang Dengan HIV (ODHIV) Endang Jamaludin saat ditemui oleh tim Tribunnews di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019). Endang Jamaludin melakukan aktvitas berlari sekaligus untuk mengkampanyekan Run For Zero Discrimination Terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Hidup tak bakal lama, tak diterima orang-orang, menjauh dari sosialisasi hingga ingin mati sempat terlintas di pikirannya. Pemikiran tersebut berangsur menghilang saat sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) membuat dia sadar banyak mitos dan stigma HIV yang berbeda dari pemikiran masyarakat.

HIV bukan akhir segalanya, hanya virus yang menjangkiti tubuh dan harus dikendalikan. Bermodalkan pemahaman itu, Dankjoedin memberitahu kondisinya kepada sang ibu. Ternyata justru dukungan hadir untuknya melawan penyakit HIV.

"Ketika saya memberitahukan kepada keluarga terinfeksi HIV, ibu saya cuma bilang 'Oke kamu HIV, kamu harus berobat, kamu harus semangat dan berjuang melawan virus itu. Jangan sampai itu mengalahkan diri kamu, tapi kamu harus mengalahkan virus itu.'," kata Dankjoedin.

Tujuan hidup dan dukungan diyakini Dankjoedin penting bagi para orang dengan HIV (odhiv) untuk bangkit dari keterpurukan. Anak, ibu dan keluarganya menjadi alasan Dankjoedin tak terpuruk kembali. Setelahnya, pria 30 tahun itu mulai memiliki niat membantu, mengedukasi orang-orang untuk lebih mengetahui HIV.

Penderita Orang Dengan HIV (ODHIV) Endang Jamaludin saat ditemui oleh tim Tribunnews di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019). Endang Jamaludin melakukan aktvitas berlari sekaligus untuk mengkampanyekan Run For Zero Discrimination Terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). Tribunnews/Jeprima
Penderita Orang Dengan HIV (ODHIV) Endang Jamaludin saat ditemui oleh tim Tribunnews di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019). Endang Jamaludin melakukan aktvitas berlari sekaligus untuk mengkampanyekan Run For Zero Discrimination Terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Dankjoedin mengaku tak pernah mendapati stigma negatif dari masyarakat ke dirinya. Sejak awal dia terbuka akan statusnya yang terinfeksi HIV. Bahkan di tempat kerja, rekan-rekannya tak percaya sekuriti di sebuah bank swasta di kawasan Tanah Abang itu positif HIV.

Halaman
12
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Deodatus Pradipto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved