Minggu, 31 Mei 2026

Bagaimana Pengobatan Kanker Kepala dan Leher di Masa Pandemi?

Di masa pandemi virus corona (Covid-19), situasinya tak akan mudah bagi penderita kanker kepala dan leher untuk menjalani pengobatan di rumah sakit.

Tayang:
Editor: Willem Jonata
Bet_Noire
Ilustrasi kanker 

TRIBUNNEWS.COM - Dokter umumnya merekomendasikan beberapa jenis pengobatan bagi penderita kanker kepala dan leher, di antaranya operasi, radioterapi, kemoterapi, dan terapi target.

Namun, di masa pandemi virus corona (Covid-19), situasinya tak akan mudah bagi penderita kanker kepala dan leher untuk menjalani pengobatan di rumah sakit.

Sebab, mereka merupakan kelompok yang rentan terinfeksi virus tersebut.

Prof. Dr. dr. Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo, SpRad(K), OnkRad selaku Koordinator Pengembangan Pelayanan Kanker Terpadu (PKaT) RSCM, memberikan penjelaskan soal itu, pada seminar online bertajuk “Pengobatan Kanker Kepala dan Leher Dalam Masa Normal Baru” yang digelar oleh Cancer Information & Support Center (CISC) dan Pelayanan Kanker Terpadu (PKAT) RSCM dengan dukungan Merck.

Baca: Penanganan Pasien Kanker di Indonesia Setara dengan Negara Lain

Menurut dia, terdapat sejumlah alasan yang menyebabkan pasien kanker rentan terhadap virus Covid-19, satu di antaranya masalah imunitas.

Kekebalan tubuh yang rendah menjadikan pasien kanker pada saat menjalankan pengobatan rentan terinfeksi virus.  

Oleh karena itu, lanjut dia, sangat penting pasien kanker mencoba meminimalkan paparan terhadap virus dan disarankan menerapkan praktik hygiene yang baik.

"Misalnya, rutin membersihkan tangan, menggunakan desinfektan untuk peralatan yang digunakan, hindari kontak langsung dan jaga jarak,” kata Prof. Tati.

Dikatakannya, pasien kanker memiliki tingkat risiko paparan Covid-19 lebih tinggi sebesar 3,5 kali lipat dibandingkan dengan pasien yang bukan kanker.

Baca: Rasanya Enak, Ternyata Makanan Favorit Para Wanita ini Bisa Jadi Penyebab Kanker Serviks

Itu termasuk pasien kanker kepala dan leher yang mempunyai risiko tinggi terhadap infeksi Covid-19, mengingat keadaan sistim imunitas mereka.

Maka, diperlukan pedoman yang tepat dalam pemberian pengobatan kanker kepala dan leher yang aman bagipara pasien kanker ini.

“Sesuai anjuran pemerintah, para ahli medis juga perlu mengupayakan pedoman pelayanan dan metode pengobatan yang optimal pada pasien kanker khususnya kanker kepala dan leher yang banyak didominasi oleh penderita stadium lanjut dan memastikan pengobatan tersebut sesuai dengan protokol pencegahan infeksi Covid-19,” tambah Prof. Tati.

Pada kesempatan yang sama, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B-Onk, M.Epid, MARS, mengatakan pentingnya pesien penderita kanker kepala dan leher menyadari kemungkinan perubahan cara perawatan. 

"Untuk itu diharapkan pasien selalu aktif mengkomunikasikan keluhan yang muncul pada dokternya sehingga perkembangan penyakitnya dapat terpantau," ucapnya.

Pasien, lanjut dia, dapat berkonsultasi secara langsung maupun virtual apabila berada pada kondisi yang krusial dan sesuai anjuran dokter.

"Adanya komunikasi antara ahli medis dan pasien akan menghasilkan langkah yang tanggap apabila pasien kanker positif terinfeksi Covid-19, seperti pertimbangan ulang terkait pengobatan kanker dan perawatan intensif Covid-19 sehingga menghindari komplikasi lebih jauh,” terangnya.

Berdasarkan data Globocan 2018, angka kejadian kanker kepala dan leher di Indonesia masuk urutan kelima besar kanker terbanyak pada laki-laki. 

Meski demikian, kanker kepala leher bisa terjadi pada perempuan maupun laki-laki dengan rasio kasus kanker kepala dan leher antara laki-laki dan perempuan adalah 2 : 1. 

Pada tahun 2020, angka kasus baru kanker kepala dan leher meningkat sebesar 883.000 jika dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu 634.000 kasus.

Kanker kepala dan leher merupakan hal yang sulit bagi pasien. Kanker ini dapat terlihat jelas di tubuh pasien dan sangat mempengaruhi kegiatan sehari-hari seperti makan, minum, berbicara yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan sosialnya.

Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum CISC, menyampaikan seminar online ini dilakukan dalam rangka peringatan hari kanker kepala dan leher.

Di samping memberi edukasi kepada masyarakat, diharapkan seminar itu bisa memberi informasi untuk pasien kanker tentang bagaimana melaksanakan pengobatan kanker kepala dan leher yang sesuai untuk dirinya di masa pandemi

"Dukungan yang positif dari keluarga dan sahabat serta organisasi pasien kanker kepada pasien dapat membantu mereka tetap semangat dan positif selama masa pengobatan ataupun pemulihan,” ucapnya.

Sementara, Presiden Direktur PT. Merck, Tbk Evie Yulin menjelaskan bahwa Merck memiliki kepedulian dan tanggung jawab yang besar untuk bisa berkontribusi dalam memberikan edukasi berkesinambungan kepada masyarakat tentang segala hal yang berhubungan dengan kesehatan.

"Untuk itu, dalam rangka memperingati hari kanker kepala dan leher sedunia, sebagai bentuk dukungan kami terhadap upaya pencegahan penyakit dan pengobatan pasien, kami merasa senang dan bangga karena dapat bermitra dengan CISC dan PKaT dalam meningkatkan kesadaran akan pengobatan pasien kanker kepala dan leher di masa “normal baru” ini," terangnya.

"Kami percaya bahwa kita semua mempunyai tujuan akhir yang sama yaitu memberikan yang terbaik untuk pasien dengan membantu meningkatkan kualitas hidup  pasien di tengah situasi saat ini,” tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved