Sering Lupa Mencari Barang, Waspada, Ini Tanda Alzheimer
Sangat disarankan segera lakukan check up memeriksa ke dokter apakah sudah ada tanda-tanda penyakit Alzheimer seperti mudah lupa ini.
Laporan wartawan Wartakotalive.com, Lilis Setyaningsih
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Terlihat sepele, ternyata mudah lupa adalah salah satu gejala Alzheimer.
Ya, mudah lupa, lupa mencari barang seperti dompet, lupa mematikan kompor, atau informasi, konsentrasi berkurang, perubahan perilaku, banyak komplain atas pekerjaan yang dikerjakan sehingga banyak orang merasa tidak bekerja dengan baik adalah salah satu tanda Alzheimer yang perlu diwaspadai.
Bahkan sangat disarankan segera lakukan check up memeriksa ke dokter apakah sudah ada tanda-tanda penyakit Alzheimer seperti mudah lupa ini.
Presiden Amerika Serikat ke 40 Ronald Reagan meninggal karena Alzheimer diusia 93 tahun pada tahun 2004.
Sepuluh tahun sebelumnya atau November 1994, sambil menangis mengumumkan kalau dirinya divonis menderita Alzheimer tahap awal.
Ia menangis karena kelak akan lupa semua kenangan yang pernah dialaminya.
Dr Pukovisa Prawiroharjo Sp.S(K) mengatakan, penyakit ini menghancurkan sel-sel otak dan belum ditemukan obatnya.
Pengobatan yang dilakukan agar kurva perburukan melambat dan dibuat sedatar mungkin.
Namun untuk mengembalikan kondisi normalnya kembali sampai sekarang belum bisa dilakukan.
Berobat teratur dan deteksi dini dapat mencegah keparahan penyakit ini.
Sebelum menjadi semakin parah dan benar-benar lupa segalanya, menurut dokter Pukovisa, gejalanya sudah muncul, namun seringkali diabaikan karena dianggap biasa.
Padahal bila sudah berusia sekitar 40 tahun dan punya keturunan seperti orangtua, nenek kakek atau saudara lain yang terkena pikun, harus berhati-hati.
Bahkan sangat disarankan segera lakukan check up memeriksa ke dokter apakah sudah ada tanda-tanda penyakit Alzheimer.
Ia menjelaskan, mudah lupa, lupa mencari barang seperti dompet, lupa mematikan kompor, atau informasi, konsentrasi berkurang, perubahan perilaku, banyak komplain atas pekerjaan yang dikerjakan sehingga banyak orang merasa tidak bekerja dengan baik.
Salah satu gejala terpenting dari Alzheimer adalah pikun atau demensia.
Bila ada anggota keluarga yang mengalami pikun, untuk memperlambat kerusakan, juga harus ada pendampingan keluarga.
“Senyum, salam sabar. Harus sabar punya orangtua pikun karena jadi peluang amal,” kata dokter Pukovisa saat IG Live RS Kencana, Selasa (8/9/2020).
Ia memberikan tips ketika mendampingi orangtua misalnya ibu yang suka menanyakan bapak mana? Padahal bapak sudah meninggal sejak lama.
“Orang pikun tidak pura-pura lupa, contohnya dia nanya bapak mana? Memang betul dia merasa lupa meskipun faktanya suminya sudah meninggal,” Katanya.
Pada kejadian tersebut, bila pendekatannya berbasis fakta bapak sudah meninggal, ketika informasi itu diberi tahu, dia sedih karena dia baru dapat informasi suaminya sudah meninggal.
Beberapa jam tanya lagi pertanyaan yang sama, ketika kita menjawab bahwa bapak meninggal dia akan sedih.
Bila dia bertanya 10 kali dan kita menjawab berdasarkan fakta, maka orang yang pikun itu bisa merasa kehilangan suami 10 kali atau lebih dalam sehari.
“Otak dalam perasaan banyak yang masih aktif jadi dia beneran sedih. Kaya dapat kabar duka 10 kali dalam sehari membuat lebih sedih jadi menurunkan fungsi otaknya. Tips tidak boleh berbasis fakta karena lupa juga, jadi fokus apa yang membuat dia teralih dan senang. Misalnya ketika ada pertanyaan bapak mana? Jawab saja, tuh lihat tanaman bunga lagi bermekaran,” katanya. Selain itu juga perlu diperhatikan pola tidur yang cukup dan teratur. Dan tentu saja berobat teratur sehingga kondisi tidak semakin parah, tapi bisa dipertahankan. (LIS)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20131216_135106_pelupa.jpg)