Breaking News:

Virus Corona

Masih Diproses, MUI Belum Bisa Pastikan Kehalalan Vaksin Covid-19 dari China

Kementerian Kesehatan, BPOM, dan MUI berangkat ke China pada pekan lalu, guna memastikan kualitas vaksin aman dan halal saat disuntikkan ke orang.

WANG ZHAO / AFP
ILUSTRASI VAKSIN: Vaksin Sinovac Biotech, salah satu dari 11 perusahaan China yang disetujui untuk melakukan uji klinis vaksin virus corona potensial, ditampilkan pada konferensi pers selama tur media di sebuah pabrik di Beijing pada 24 September 2020 . 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Direktur LPPOM MUI Muti Arintawati mengatakan, MUI belum bisa memberi kepastian kehalalan pada vaksin covid-19 yang berasal dari Tiongkok, China, lantaran proses inpeksi ke tempat pembuatan vaksin masih berlangsung.

Hal itu diungkap Muti dalam press briefing Kementerian Kesehatan RI yang disiarkan secara virtual, Senin (19/10/2020).

"Kita masih menunggu hasil dari tim, setelah hasilnya keluar kemudian bisa ditimbang dan dinilai apakah memang semua persyaratan bisa diikuti dengan baik dari industri vaksin," jelas Muti.

Diketahui, Kementerian Kesehatan, BPOM, dan MUI berangkat ke China pada pekan lalu, guna memastikan kualitas vaksin aman dan halal saat disuntikkan ke orang.

Baca juga: Warga DKI yang Tolak Swab Test dan Vaksin Covid-19 Bakal Didenda Maksimal Rp 5 Juta

Untuk itu, ujar Muti, setelah mendapatkan laporan dari tim yang langsung berangkat ke China, MUI akan melajutkan proses sertifikasi halal vaksin tersebut di tanah air.

Baca juga: Indonesia dan Inggris Berkolaborasi di Bidang Pendidikan dan Riset Vaksin Covid-19

"Jadi kalau ditanya sekarang belum bisa dijawab, apakah memang produknya halal atau tidak. karena prosesnya belum berjalan dan belum dimulai, kita masih menunggu hasil pemeriksaannya seperti apa, dan hasilnya akan di bawa dan dirapatkan kemudian hasilnya akan disampaikan oleh komisi fatwa," terang Muti.

Muti menerangkan ada tiga hal penting dalam sertifikasi halal, termasuk untuk vaksin virus corona ini.

Pertama traceability atau ketertelusuran.

Kedua, harus memastikan adanya jaminan kehalalan, di mana suatu produk yang sudah halal artinya sudah menggunakan bahan-bahan yang halal dalam proses produksinya, kemudian menggunakan fasilitas yang bebas juga dari bahan-bahan yang tidak halal.

Halaman
12
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved