Rabu, 6 Mei 2026

Sering Salah Kaprah, Psikolog Tegaskan Kesehatan Mental Tidak Berkaitan dengan Religiusitas

Psikolog klinis Rena Masri, M.Psi menjelaskan masalah kesehatan mental tidak berkaitan dengan kepercayaan seseorang kepada Tuhan-nya.

Tayang:
Penulis: Inza Maliana
Editor: Gigih
Unsplash.com/@yrss
Post-Holiday Syndrome, Depresi - Dalam artikel ini diulas bagaimana Psikolog klinis Rena Masri SPsi MPsi menjelaskan masalah kesehatan mental yang sering menjadi salah kaprah di masyarakat. 

TRIBUNNEWS.COM - Psikolog klinis Rena Masri SPsi MPsi menjelaskan masalah kesehatan mental yang sering menjadi salah kaprah di masyarakat.

Di antaranya seperti banyak anggapan masalah kesehatan mental berkaitan dengan religiusitas atau kepercayaan kepada Tuhan.

Masyarakat awam sering menilai, kurangnya religiusitas seseorang menyebabkan masalah kesehatan mental.

Akibatnya, pasien dengan gangguan mental sering mendapat penanganan yang kurang maksimal.

Rena pun menegaskan masalah kesehatan mental tidak berkaitan dengan kereligiusan seseorang.

Pasalnya penyakit mental tidak muncul secara tiba-tiba, karena tingkat pengetahuan seseorang dari agama dianggap kurang.

Ilustrasi stres. Lama terkurung dalam rumah bisa mempengaruhi kesehatan mental.
Ilustrasi stres. Lama terkurung dalam rumah bisa mempengaruhi kesehatan mental. (freepik.com)

Baca juga: Pekerja Sosial sebagai Pahlawan Pemelihara Kesehatan Mental di Masa Pandemi COVID-19

Baca juga: Stres Saat Pandemi Picu Ganguan Kesehatan Mental, Hindari Stress, Cari Informasi Benar Soal Covid-19

Hal ini ia sampaikan dalam diskusi daring 'Halotalks: Pendekatan Kesehatan Holistik Guna Mewujudkan Indonesia Sehat' pada Rabu (11/11/2020).

"Religiusitas memang betul memengaruhi perasaan nyaman, perasaan tenang tapi penyebabnya bukan hanya itu."

"Tapi ada tekanan-tekanan tertentu dimana tekanannya itu lebih berat dibandingkan kapasitas kita untuk menghadapi tekanan itu."

"Sehingga akhirnya muncul tekanan, depresi, dan lainnya. Jadi (salah kaprah) itu yang masih banyak dan sering muncul di masyarakat," kata Rena.

Kendati demikian, Rena membenarkan religiusitas penting untuk dimiliki seseorang.

Selain mengantuk berlebihan dan sering menguap, kurang tidur akibat begadang akan berpengaruh kepada kondisi emosi, kemampuan kognitif, dan fungsi otak. Efek begadang bagi kesehatan juga meningkatkan risiko penyakit, seperti diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kanker, dan penyakit jantung. Selain itu dampak buruk yang lainnya adalah kulit wajah akan tampak lebih tua, berat badan naik, depresi, pelupa, menurunkan libido dan meningkatkan resiko kematian. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka)
Selain mengantuk berlebihan dan sering menguap, kurang tidur akibat begadang akan berpengaruh kepada kondisi emosi, kemampuan kognitif, dan fungsi otak. Efek begadang bagi kesehatan juga meningkatkan risiko penyakit, seperti diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kanker, dan penyakit jantung. Selain itu dampak buruk yang lainnya adalah kulit wajah akan tampak lebih tua, berat badan naik, depresi, pelupa, menurunkan libido dan meningkatkan resiko kematian. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) (TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA)

Baca juga: Solusi Masalah Kesehatan Mental di Masa Pandemi, Satu di Antaranya Jangan Tonton Film Horor

Baca juga: Kesehatan Mental Laki-laki Perlu Diperhatikan untuk Cegah Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Namun, pasien dengan gangguan mental yang parah perlu bantuan ahli untuk menjalani pemulihan.

Tidak hanya persoalan religiusitas, pendiri komunitas psikologi Cinta Setara ini juga membeberkan salah kaprah lainnya.

Menurut Rena, masyarakat masih sering mendiagnosis penyakit mentalnya sendiri.

Padahal, ia hanya bermodalkan membaca ciri-ciri penyakit tersebut tanpa berkonsultasi dengan psikolog.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved