Breaking News:

Lebih Efektif Mana Pengobatan Suntik Insulin atau Obat Minum? Begini Penjelasan Dokter

Pada umumnya, ada dua jenis pengobatan diabetes. Yaitu suntik insulin dan obat-obatan yang diminum. Mana yang lebih efektif?

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Lebih Efektif Mana Pengobatan Suntik Insulin atau Obat Minum? Begini Penjelasan Dokter 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit gula atau diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang cukup serius.

Apalagi jika tidak diimbangi oleh pola makan yang benar dan konsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter. Obat yang diberikan oleh dokter berfungsi untuk mengontrol agar gula darah.

Pada umumnya, ada dua jenis pengobatan diabetes. Yaitu suntik insulin dan obat-obatan yang diminum.

Baca juga: Penderita Diabetes Rentan Alami Neuropati, Ini yang Harus Diwanti-wanti Saat Puasa di Bulan Ramadan

Baca juga: Memilih Alas Kaki yang Tepat untuk Penderita Diabetes

Pengobatan suntik insulin cara kerjanya serupa pada hormon insulin alami. Dimana mengontrol gula darah dan menjadikannya energi

Lantas mana yang lebih baik? Pengobatan menggunakan suntik insulin atau minum obat-obatan?

Menurut dr Adeputri Tanesha Idhayu, Sp. PD, pengobatan tidak mutlak hanya suntikan insulin saja.

Gula darah tinggi yang dibiarkan begitu saja dapat menyebabkan komplikasi. Lalu, sebenarnya kapan diabetes memerlukan insulin?
Gula darah tinggi yang dibiarkan begitu saja dapat menyebabkan komplikasi. Lalu, sebenarnya kapan diabetes memerlukan insulin? (Shutterstock)

Begitu pula sebaliknya. Pada kasus tertentu, pasien bisa mendapatkan kombinasi keduanya yaitu suntik insulin dan obat minum.

Penggunaan insulin dapat digunakan saat pasien mengalami perawatan karena infeksi atau kritis. Begitu pula saat akan masuk ICU atau melaksanakan operasi.

Namun dr Ade mengatakan saat kondisi tubuh sudah kembali normal, konsumsi obatan dapat diminum kembali.

Karena itu jika ditanya mana yang lebih baik, dr Ade mengatakan, tergantung pada kondisi si pasien. Tentu harus dinilai kondisi tubuh secara keseluruhan.

Baik dari pola makan pasien hingga kondisi gula darah.

"Untuk lebih baiknya, harus dinilai setiap pasien. Tidak bisa disama ratakan. Dilihat secara keseluruhan yaitu pola makan, usia, fungsi ginjal dan hati pada pasien, seperti itu," katanya lagi.

Seputar berita kesehatan

Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved