Sabtu, 9 Mei 2026

Bukan Obat, Ini Strategi Pemerintah Turunkan Jumlah Pasien Kanker Paru di Indonesia

Kemenkes tengah menyiapkan strategi untuk menurunkan jumlah pasien penyakit kanker paru di Indonesia melalui program deteksi dini. 

Tayang:
Tribunnews.com/Taufik Ismail
KANKER PARU - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin usai menemui Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Presiden, Jakarta, Selasa (3/6/2025). Kemenkes tengah menyiapkan strategi untuk menurunkan jumlah pasien penyakit kanker paru di Indonesia melalui program deteksi dini.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kanker paru menjadi kanker dengan tingkat kematian tertinggi di Indonesia.

Teranyar, kanker ini jadi penyebab meninggalnya musisi legendaris Acil Bimbo.

Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menyiapkan strategi untuk menurunkan jumlah pasien penyakit tidak menular itu.

Bukan obat, melainkan program besar deteksi dini kanker paru.

"Kanker paru ditetapkan sebagai prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur kesehatan," ujar Menteri Kesehatan (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin  dikutip dari keterangan tertulisnya, Minggu (7/9/2025).

Ia mengatakan, pengobatan bukanlah strategi melawan kanker.

Hal ini dikarenakan, kanker yang teridentifikasi sejak awal, maka peluang hidup pasien jauh lebih besar.

Baca juga: Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia pada 1 Agustus, Simak Sejarahnya

Saat terdeteksi pada stadium satu, terapinya bukan kemoterapi atau radioterapi, melainkan operasi.

Karena itu, peningkatan fasilitas skrining akan berdampak besar pada meningkatnya jumlah pasien yang terdiagnosis lebih awal dan mendapatkan penanganan lebih cepat.

“Dengan skrining yang lebih baik, banyak nyawa yang bisa diselamatkan,” ungkap Dirut Bank Mandiri ini.

Budi menyebut, pemerintah sedang mendistribusikan CT Scan dosis rendah ke seluruh kota di Indonesia.

Teknologi ini memungkinkan layanan kesehatan melakukan skrining kanker paru secara cepat dan merata.

Baca juga: Ibunda Mita The Virgin Meninggal karena Kanker Paru, sang Putri Temani Masa Kritis: Aku Ikhlas

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga menyiapkan 514 laboratorium imunohistokimia (IHK) di kota-kota tersebut untuk mendukung diagnosis dengan akurasi lebih tinggi.

Diketahui imunohistokimia merupakan diagnosis kanker, dengan cara mengidentifikasi penanda molekuler seluler untuk menentukan jenis dan asal tumor, memperkirakan respons terhadap pengobatan, dan memprediksi prognosis penyakit. 

Di tingkat provinsi, akan dikembangkan laboratorium patologi anatomi berbasis teknologi Next Generation Sequencing (NGS) sehingga diagnosis kanker dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Tanda dan Gejala Kanker Paru

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved