Breaking News:

Punya Nilai Ekonomis, BPOM: Jamu dan Ramuan Tradisional Kurang Didukung Data Empiris

jamu dan ramuan tradisional berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi, ditambah aspek positif tren back to Nature pada kondisi Pandemi Covid.

TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI Reri Indriani mengatakan, banyak jamu dan ramuan tradisional khas Indonesia memiliki nilai ekonomis.

“Namun potensi tersebut harus terganjal dengan kurangnya data empiris terkait keamanan dan kelengkapan sebagai syarat izin edar di Badan POM, ujarnya, saat membuka Webinar Mengenal Jamu Nusantara, Rabu (8/9/2021).

Menurutnya, jamu dan ramuan tradisional berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi, ditambah aspek positif tren back to Nature pada kondisi Pandemi Covid.

Baca juga: Fintech Ini Gandeng 60 Perusahaan, Bisa Cairkan Gaji Lebih Awal untuk Kebutuhan Berobat

“Jadi ini blessing in disguise nya itu telah menyebabkan lonjakan permintaan masyarakat terhadap jamu dengan melihat kecenderungan peningkatan permintaan yang terjadi di seluruh dunia," ujar Reri.

Berdasarkan data Riset Tanaman Obat Dan Jamu (Ristoja) tahun 2017 milik Kementerian Kesehatan, katanya, ada 32 ribu ramuan pengobatan tradisional, yang didukung dengan 2.848 spesies tumbuhan yang sudah teridentifikasi sebagai tumbuhan bahan obat tradisional.

Ia mengatakan, Indonesia dikenal memiliki kekayaan tanaman obat dan ramuan jamu dari berbagai suku yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke yang merupakan kearifan lokal jamu di seluruh Nusantara.

Baca juga: China Bakal Bangun Pabrik Vaksin di Indonesia, PKS Ingatkan Hal Ini 

Seperti tanaman jamu dari Jawa yakni Meniran, Sambiloto, Jahe Merah, Kunyit temulawak.
Kemudian, khas Sumatera serupa yang banyak dijadikan minyak gosok.

Selain itu, Bali memiliki minyak aromaterapi, minyak balur, lulur tradisional, boreh-borehan, minuman loloh.

"Dan juga sebagainya. Kita juga mengenal suku Dayak terkenal dengan ramuan ramuan tanaman khas yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan yaitu Bajakah. Kemudian juga di Indonesia bagian timur ini pemanfaatan bahan alam oleh masyarakatnya itu cukup banyak," jelasnya.

Ada pengolahan minyak kayu putih di Maluku , tanaman asli Papua yang terkenal buah Merah, Sarang Semut dan juga kayu Akway.

Baca juga: Memahami Teori Evolusi, Seri Edukasi Britannica Pas untuk Bacaan Anak-anak

"Kalau Sulawesi terkenal dengan pengolahan minyak kelapa menjadi VCO atau Virgin Coconut oil yang bisa digunakan juga sebagai minyak gosok herbal," ujar Reri.

Ia mengatakan, Indonesia harus mampu menangkap peluang potensi ekspornya.
Tapi kelemahan dari keanekaragaman sumber daya alam ini adalah dokumentasi atau pembuktian secara empiris.

Ia menggambarkan kondisi dilematis yang dihadapi BPOM. Ada UMKM yang mendaftarkan produknya dengan klaim, misalnya, memelihara kesehatan pencernaan.

“Tetapi setelah kami telusuri ternyata data dukung empirisnya tidak ada, padahal di wilayah tertentu ramuan itu sudah sangat dikenal dan digunakan serta dipercaya oleh masyarakat," katanya. (Tribun Network/Rina Ayu/sam)

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved