Rabu, 20 Mei 2026

Mengapa Hormon Bisa Memperburuk Gejala ADHD pada Wanita?

Perubahan hormon seperti estrogen dapat memperburuk gejala ADHD pada wanita, terutama saat menstruasi, kehamilan, dan menopause.

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie

Ringkasan Berita:
  • Perubahan hormon seperti estrogen dapat memperburuk gejala ADHD pada wanita, terutama saat menstruasi, kehamilan, dan menopause.
  • Penurunan estrogen memengaruhi dopamin, sehingga konsentrasi, emosi, dan toleransi stres bisa menurun.
  • Rutinitas sehat, olahraga, terapi hormonal, dan dukungan psikologis dapat membantu mengelola gejala ADHD pada wanita.

TRIBUNNEWS.COM - Pada waktu-waktu tertentu dalam sebulan, atau pada fase kehidupan tertentu, banyak wanita merasa lebih sulit berkonsentrasi, menghadapi stres, dan mengendalikan emosi—sehingga perubahan suasana hati, kegelisahan, dan kelelahan meningkat.

Mengutip DPA International, hormon sering memainkan peran besar, terutama pada wanita dengan Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Pada pria, gangguan perkembangan saraf ini biasanya didiagnosis sejak masa kanak-kanak, tetapi pada wanita sering kali jauh lebih terlambat, atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali.

Salah satu alasannya adalah karena wanita lebih sering mengalami gejala kurang perhatian (inattentive), yang lebih sulit dikenali dibanding gejala hiperaktif. Selain itu, gejala mereka cenderung lebih berfluktuasi, misalnya selama siklus menstruasi, kehamilan, dan masa transisi menopause.

Pada wanita dengan ADHD tipe inattentive, perubahan hormon yang relatif kecil bisa memberi dampak lebih besar dibanding wanita tanpa gangguan tersebut. Ledakan emosi, penurunan konsentrasi, dan kemampuan mengelola stres menjadi lebih intens.

Hormon seks wanita menjadi faktor utama, terutama estrogen. Hormon ini tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memengaruhi neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin, yang membantu mengatur konsentrasi, motivasi, suasana hati, dan kestabilan emosi.

Baca juga: Fenomena Baru di Korea Selatan: Obat ADHD Diduga Dipakai untuk Tingkatkan Fokus Belajar

Penurunan kadar estrogen—misalnya pada paruh kedua siklus menstruasi, setelah melahirkan, dan saat menopause—dapat mengganggu keseimbangan hormon yang sensitif. Banyak wanita kemudian menjadi lebih sensitif terhadap tekanan emosional.

Menurut psikiater asal Swedia, Lotta Borg Skoglund, yang khusus menangani anak perempuan dan wanita dengan ADHD, gejala pada periode tersebut bisa jauh lebih berat bagi penderita ADHD. Mereka lebih sering mengeluhkan mudah terdistraksi, daya tahan stres yang menurun, emosi lebih intens, dan gangguan tidur yang meningkat.

Untuk memahami bagaimana hormon seperti estrogen memengaruhi gejala ADHD, penting melihat peran dopamin. Kekurangan dopamin membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi, mengendalikan ketegangan batin, dan menyelesaikan tugas.

Para ahli meyakini bahwa penderita ADHD memiliki kadar dopamin lebih rendah dari normal, atau dopamin dalam otak mereka tidak digunakan secara optimal atau terlalu cepat terurai. Hal ini menjelaskan mengapa mereka sering impulsif, mudah terdistraksi, dan lebih rentan mengalami perubahan suasana hati.

Untuk mengatasi masalah ini, pasien ADHD sering diberi obat yang meningkatkan kadar dopamin dan norepinefrin (noradrenalin) di otak. Hal ini dapat meningkatkan konsentrasi, motivasi, dan kestabilan emosi.

“Dopamin membantu mengatur banyak perilaku sehari-hari, termasuk beberapa perilaku yang lebih bermasalah,” kata Borg Skoglund. “Pelepasannya menghasilkan perasaan berenergi dan bahagia.”

Di sinilah hormon seks wanita berperan. Estrogen memengaruhi dopamin dalam berbagai cara: merangsang produksinya, membantu pelepasannya, dan memperlambat pemecahannya.

“Estrogen adalah pendorong dopamin yang sangat kuat,” kata Frank Matthias Rudolph.

Penurunan estrogen sering menurunkan ketersediaan dopamin, yang sangat berdampak pada wanita dengan ADHD, terutama selama siklus menstruasi. Pada paruh pertama siklus, estrogen mendominasi dan mendukung produksi dopamin. Kadarnya menurun pada paruh kedua ketika hormon progesteron meningkat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved