Benarkah Vaksin Covid-19 Tidak Berikan Kebebalan Optimal Sehingga Butuh Booster?
Peneliti pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman mengatakan, vaksin booster sangat efektif karena sedikit meningkatkan antibodi.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kemunculan varian Omicron menimbulkan banyak kekhawatiran. Pasalnya menurut informasi, varian ini terhitung cepat dalam menular.
Di sisi lain, varian Omicron disebut dapat menurunkan efikasi vaksin Covid-19. Hal ini membuat masyarakat mempertanyakan apakah harus booster lagi untuk memberikan perlindungan lebih?
Menurut ahli epidemiologi Indonesia dan peneliti pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman, vaksin booster sangat efektif karena sedikit meningkatkan antibodi.
Bahkan negara lain seperti Israel meningkat booster menjadi 4 dosis. Namun sejauh ini, belum terlalu membutuhkan booster sampai 4 dosis.
Baca juga: SIAP-SIAP Vaksinasi Booster akan Digelar Pertengahan Januari 2022, Masyarakat Non PBI Harus Bayar
"Tentunya kita tidak perlu 4 dosis. Setidaknya mengarah pada tiga dosis menjadi sangat penting terutama yang berisiko tinggi," ungkapnya pada webinar virtual, Sabtu (1/1/2022).
Namun saat ini WHO masih belum merekomendasikan booster karena permasalahan stok. Kesetaraan penerimaan vaksin masih menjadi masalah.
Baca juga: Ada Temuan Transmisi Lokal Omicron, Kemenkes Buka Opsi Percepat Pemberian Booster Vaksin Covid-19
"Bukan berarti booster tidak. Tapi harus lebih banyak orang yang buka dosis dulu, itu yang lebih meningkatkan kesetaraan, pemerataan dari proteksi. Dua dosis pun punya dampak," kata Dicky menambahkan.
Baca juga: Epidemiolog UI: Nggak Usah Khawatirkan Omicron!
Di sisi lain, walau ada penurunan efikasi, bukan berarti vaksin Covid-19 tidak ada dampak sama sekali. Karena riset lain menunjukkan bahwa sel T ini ternyata berperan.
"Bahwa ini juga membuat manusia akhirnya divaksinasi punya proteksi. Itu pula menyatakan kita tidak hanya mengandalkan vaksin Covid-19," kata Dicky lagi.
Protokol kesehatan harus tetap diterapkan. Ia pun mencontohkan Jepang yang paling disiplin dan tidak hanya mengandalkan vaksin.
Lalu Inggris tingkat vaksin Covid-19 yang sudah cukup tinggi, namun kasus infeksi kini malah meledak. Hal ini kata Dicky dikarenakan abai pada protokol kesehatan.
Dicky Budiman kembali menegaskan jika vaksinasi masih punya dua dari empat manfaat utama. Dari sisi klinis, manfaat vaksin Covid-19 tercapai. Yaitu mengurangi keparahan dan fatalitas.
Tapi dua manfaat vaksin Covid-19 dari sisi epidemiologi belum tercapai. Yaitu mengurangi infeksi artinya dan mencegah orang terinfeksi yang telah divaksinasi menularkan pada orang lain.
"Maka herd immunity menjadi satu target yang masih panjang," pungkas Dicky.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dicky-budiman.jpg)