Penyakit Cacar Monyet

Pengawasan terhadap Komunitas Gay, Mungkinkah Efektif Cegah Monkeypox?

Kementerian Kesehatan akan memperkuat aktivitas surveilans pada komunitas gay di Indonesia, menyusul WHO tetapkan monkeypox darurat kesehatan global.

freepik
Monkeypox atau cacar monyet 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) akan memperkuat aktivitas surveilans pada komunitas gay di Indonesia, menyusul WHO menetapkan monkeypox atau cacar monyet sebagai darurat kesehatan global.

Nantinya kegiatan surveilans akan melibatkan beberapa organisasi maupun LSM.

"Juga pada komunitas saat ini sesuai data kasus yang paling banyak di dunia pada kelompok Gay, maka kami akan melakukan surveilens ketat pada kelompok ini bekerjasama dengan beberapa organisasi juga LSM," Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu saat dikonfirmasi, Senin (26/7/2022).

Baca juga: Belum Ditemukan tapi Risiko Monkeypox Masuk di Indonesia Tetap Ada

Merespons hal itu salah satu bagian dari kelompok gay SA (31) menyarankan agar pemerintah terus meningkatkan edukasi terkait pencegahan cacar monyet ke masyarakat yang lebih luas.

Pasalnya, monkeypox atau cacar air bisa menginfeksi semua orang tidak hanya kelompok tertentu.

"Ada baikmya jika kemenkes dan LSM utk mengedukasi lebih jauh tidak hanya fokus terhadap kelompok tertentu saja tapi kepada seluruh masyarakat, karena monkeypox ini bukan timbul dari perilaku penyimpangan seksual," kata dia saat dihubungi Tribunnews.com.

Meski demikian, dirinya mendukung upaya pemerintah agar terus meningkatkan kesadaran kesehatan kelompok LGBT.

Menurutnya, tak bisa dipungkiri secara umum banyak LGBT yang belum peduli terhadap kesehatan.

"Memang banyak LGBT yang belum peduli tentang status kesehatan mereka. Makannya sasaran utama untuk edukasi ialah dari kelompok tersebut," harap dia.

Sebelumnya dalam keterangan resmi WHO yang dikeluarkan Jumat (23/7/2022) tertulis saat ini bahwa wabah ini terkonsentrasi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria, terutama mereka yang berganti-ganti pasangan.

Artinya, ini adalah wabah yang bisa dihentikan dengan strategi yang tepat di kelompok yang tepat

WHO pun mengingatkan, penting bahwa semua negara bekerja sama dengan komunitas laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, untuk merancang dan menyampaikan informasi dan layanan yang efektif, dan untuk mengadopsi langkah-langkah yang melindungi kesehatan, hak asasi manusia, dan martabat masyarakat yang terkena dampak. 

Stigma dan diskriminasi bisa sama berbahayanya dengan virus apa pun. 

"Saya juga menyerukan kepada organisasi masyarakat sipil, termasuk mereka yang berpengalaman dalam bekerja dengan orang yang hidup dengan HIV, untuk bekerja bersama kami dalam memerangi stigma dan diskriminasi," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved