Jangan Berhenti Latihan untuk Jaga Kebugaran, Stop Seminggu Saja Massa Otot Berkurang

Kejadian cedera tersebut biasanya menimpa para pegiat olahraga yang jarang latihan.

Editor: Choirul Arifin
Hai Online
Talkshow trik menjaga kebugaran di di acara peluncuran Welspro di PIK 2 Jakarta Utara pada Minggu (11/9/2022). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar kebugaran mengingatkan agar masyarakat tidak berhenti melakukan exercise agar tubuh tetap selalu bugar. Dokter Dhika Raspati SpKO mengatakan, kejadian cedera tersebut biasanya menimpa para pegiat olahraga yang jarang latihan.

"Berhenti latihan selama dua minggu saja, itu akan menyebabkan massa otot menyusut dan terjadi penurunan detak jantung," ujar dr Dhika Respati SpKO saat tampil jadi narasumber di acara peluncuran Welspro di PIK 2 Jakarta Utara pada Minggu (11/9/2022).

Dia menjelaskan, jika memaksakan tetap berolahraga tanpa persiapan membangun muscle ototnya kembali, maka bukan cuma performa olahraga yang menurun tapi risiko bahayanya akan bisa mengakibatkan gagal jantung.

Dia mengatakan, mencegah bahaya cedera dalam berolahraga serta mengembalikan performa terbaik di levelnya setelah lama rehat alias rebahan. Karena itu dr. Dhika menyarankan untuk memersiapkan tubuh mendekati ke kondisi semula.

"Perlu melakukan pemeriksaan kesehatan tubuh atau assessment pribadi-lah melihat sudah sejauh mana kondisi menurun, dari situ mulai membangun lagi sedikit-demi sedikit porsi latihannya," katanya lagi.

Meski ada yang namanya pemanasan dinamis, dr. Dhika tidak menyarankan untuk tidak langsung melakukan jenis olahraga seperti saat aktif dulu.

Baca juga: Cegah Obesitas Pada Anak, Pelatih Kebugaran Berikan Beberapa Tips Agar Rajin Berolahraga 

"Warming up itu fungsinya untuk mempersiapkan tubuh meregangkan otot, tapi kan namanya olahraga terutam kardio itu bukan cuma otot yang dipakai tapi jantung juga," jelasnya.

Pemanasan tersebut menurut dr. Dhika juga tidak mencegah cedera atau menaikkan performance olahraga seseorang.

"Mungkin bisa naik dari kondisi terbawahnya paling naiknya cuma 10 persen saja tapi dia (pemanasan.red) bukan menjadi segalanya," tegasnya lagi.

Dr. Dhika menekankan, untuk mencegah cedera dan mengembalikan performa olahraga di level masing-masing, perlu untuk seseorang melakukan deconditioning, assessment ulang dan latihannggak cuma rutin sebulan bahkan perlu sampai tahunan.

Baca juga: Lelah Menyetir Saat Mudik, Tips Pulihkan Kebugaran dari Dokter Ini Patut Dicoba

Seperti diketahui, kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya hidup sehat semakin meningkat. Namun selama pandemi Covid-19 kemarin, tingkat keaktifan masyarakat tercatat menurun.

Hal itu ditambah lagi kesadaran terhadap cedera saat berolahraga juga masih belum merata diketahui masyarakat kita sehingga tidak sedikit para pecinta olahraga yang mulai bergiat melakukannya lagi harus menanggung risikonya.

"di Indonesia kita tidak punya data orang cedera karena olahraga, namun sebagai contoh di Amerika itu setiap tahun ada ribuan kasus baru bagi pelaku olahraga yang mengalami cedera di ligamen, terutama pada bagian lutut mereka," ujar dr. Agus Choirul Anab di acara yang sama.

Karena adanya kebutuhan masyarakat untuk mengerti lebih dalam tentang cara berolahraga yang tepat dan mendapatkan petunjuk mencegah dan menangangi cederanha, Welspro yang bergerak di bidang Sport Performance and Injury Management, kemudian memfasilitasi kebutuhan tersebut.

Baca juga: Survei Asics: 79 Persen Dari 321 Responden Memilih Lari Sebagai Olahraga Kebugaran Fisik

Klinik tersebut menerapkan prinsip client centric (personal wellness management) dan juga kolaborasi dalam team. Keberhasilan program setiap individu client bakal menjadi prioritas utama mereka.

Pada setiap tahapan klien mendapat pendampingan secara khusus dan prosesnya ditangani oleh client manager. Client yang datang mendapatkan general assessment diawali oleh dokter umum, tim dokter spesialis serta terapi penunjang.

Welspro menerapkan health evaluation and management hingga performance enhancement yang dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (SpKO), Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (SpKFR), Orthopedi dan Traumatologi (SpOT), Gizi Klinis (SpGK), fisioterapi dan spesific coach sesuai dengan cabang olahragannya.

Dengan demikian, perkembangan kondisi client terpantau secara komprehensif, dan client terbantu sejak penanganan cedera hingga dapat kembali ke performa olahraga terbaiknya.

Pemeriksaan ini didukung perlengkapan canggih seperti Huber, Motion Analysis, footscan analysis, Cardiopulmonary Exercise Test (CPET), Virtual Games, Isokinetics, Body Composition dan lainnya demi mendapatkan hasil pemeriksaan dan juga tindakan yang akurat.

Laporan Reporter Al Sobry | Sumber: Hai Online

Sumber: Hai-online.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved