Breaking News:

Ketahui Cedera yang Sering Terjadi Pada Olahraga Lari Serta Cara Penanganannya 

Jika mencurigai adanya cedera selama latihan yang semakin lama semakin nyeri perlu konsultasi ke dokter

Editor: Eko Sutriyanto
ISTIMEWA
Ilustrasi lari 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lari menjadi salah satu olahraga yang paling diminati. Selain mudah, olahraga ini terbilang murah karena tidak butuh modal yang besar.

Namun, tidak dapat dihindari jika lari juga bisa berisiko mengakibatkan cedera. 

Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Sport Medicine Injury Recovery Center RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dr. Grace Joselini Corlesa, MMRS, Sp.KO .

Menurut dr Grace ada beberapa cedera yang sering terjadi pada pelari. Pertama, cedera plantar fasciitis atau nyeri di bagian tumit kaki.

Baca juga: Pelatih Vietnam U-20 Akui Fisik Timnas U-20 Indonesia Bisa Lari 90 Menit di Bawah Shin Tae-yong

Kedua, patellofemoral pain syndrome atau runner’s knee. Yaitu terjadi kerusakan pada tulang rawan di bawah tempurung lutut. 

Ketiga, Shin splint yaitu nyeri di sekitar tulang kering dampak dari teknik berlari yang kurang tepat (heel strike).

Keempat, Iliotibial band syndrome atau cedera pada jaringan ikat (ligamen) yang memanjang dari tulang panggul ke tulang kering, menjadi sangat ketat sehingga menggosok tulang paha. 

Berujung terjadi sebuah kesakitan di daerah tersebut. Dampak dari cedera overuse, otot bokong yang lemah, dan pemanasan yang tidak adekuat.

Kelima, achilles tendinitis, adanya nyeri di pangkal betis dampak dari cedera overuse dan otot betis yang lemah.

Baca juga: Alami Cidera di Bagian Kepala Parah, Mahasiswa di Bali Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Lalu Lintas

Lantas apa yang perlu dilakukan saat mengalami beberapa cedera di atas saat melakukan olahraga lari? Dr Grace pun menyarankan untuk melakukan ini.

"Jika mencurigai adanya cedera selama latihan yang semakin lama semakin nyeri, serta mulai menganggu teknik berlari, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran olahraga," ungkapnya pada keterangan resmi, Selasa (20/9/2022).

Tujuannya agar mendapatkan diagnosis, penanganan, dan terapi latihan yang tepat serta sesuai untuk pemulihan cedera.


KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved