Sabtu, 9 Mei 2026

Skoliosis Kerap Ditemukan Saat Masa Pubertas, Orang Tua Penting Waspada Sejak Dini

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat prevalensi skoliosis di Indonesia mencapai tiga sampai lima persen dari jumlah populasi.

Tayang:
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hendra Gunawan
istimewa
Instruktur Schroth Best Practice (SBP) dan akupunktur, dr Regina Varani dari Spine Clinic Family Holistic dalam Diskusi mengenai Skoliosis di Spine Clinic Family Holistic, Jakarta Barat, Senin (7/8/2023). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat ini masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa penyakit kelainan pada tulang belakang (skoliosis) kerap ditemukan pada anak yang memasuki masa pubertas.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat prevalensi skoliosis di Indonesia mencapai tiga sampai lima persen dari jumlah populasi.

dr Regina Varani dari Spine Clinic Family Holistic mengakui bahwa kelainan ini umumnya diketahui saat anak memasuki usia remaja yakni 10 hingga 15 tahun.

Oleh karena itu, penting untuk mendeteksi secara dini atau pada usia 10 hingga 13 tahun.

Karena pada fase usia ini, anak-anak masih dalam masa pertumbuhan dan lebih besar peluang untuk memperbaiki tulang belakang yang mengalami kelainan itu.

"Skoliosis yang terdeteksi pada awal masa pertumbuhan dan saat kurva masih mild to moderate memiliki kemungkinan terkoreksi jauh lebih besar dan lebih mudah ditangani," kata dr Regina dalam agenda Diskusi mengenai Skoliosis di Spine Clinic Family Holistic, Jakarta Barat, Senin (7/8/2023).

Lalu apa saja yang dialami penderita Skoliosis?

Wanita yang juga merupakan seorang Instruktur Schroth Best Practice (SBP) dan akupunktur tersebut kemudian menjelaskan bahwa kondisi Skoliosis yang berat tidak hanya dapat mengganggu kesehatan saja.

Namun juga menimbulkan keluhan yang dapat mengganggu produktivitas hingga menurunkan tingkat kepercayaan diri dan citra diri yang positif.

Untuk menangani kondisi ini, kata dia, diperlukan terapi konservatif yang tepat yang menggunakan dua metode yakni SBP dan Gensingen Brace (GBW).

"Terapi konservatif yang tepat dapat membantu memperbaiki kondisi Skoliosis. Namun terapi konservatif tersebut harus bersifat spesifik sesuai kurva skoliosis yang dialami, yaitu brace GBW dan latihan Schroth," jelas dr Regina.

Apakah penderita Skoliosis memerlukan support system?

Dirinya menegaskan bahwa ada hal yang perlu diperhatikan terkait penanganan penderita Skoliosis, yakni pasien membutuhkan dukungan moral dari teman dan keluarganya.

Karena terapi yang dilakukan dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved