Sabtu, 9 Mei 2026

Pertama di Indonesia, Bio Farma Produksi Alat Pendeteksi Kanker

Alat pendeteksi kanker FloDeg diproduksi di fasilitas Cyclotron milik Bio Farma di Kawasan Industri Cikarang, Jawa Barat.

Tayang:
Penulis: Erik S
Editor: Choirul Arifin
handout
ALAT DETEKSI KANKER - Penyerahan perdana alat pendeteksi kanker berbasis radiofarmaka pertama buatan dalam negeri, FloDeg, di RS Tzu Chi PIK Jakarta oleh Direktur Pengembangan Usaha Bio Farma, Yuliana Indriati (kiri) kepada Direktur Medis RS Tzu Chi, dr. Suriyanto (Ke-2 dari kiri) (12/6/2025) 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia untuk pertama kalinya memproduksi alat pendeteksi kanker berbasis radiofarmaka buatan dalam negeri. Alat tersebut diberi nama FloDeg (Fludeoxyglucose - 18F) yang dikembangkan PT Bio Farma (Persero) dan telah didistribusikan ke tiga rumah sakit mitra yaitu RS Tzu Chi PIK Jakarta, RS Mitra Plumbon Cirebon, dan RS Mandaya Royal Puri Tangerang.

Langkah ini menandai babak baru dalam penguatan ketahanan kesehatan nasional, sejalan dengan visi besar Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun industri farmasi strategis dan berteknologi tinggi.

FloDeg menjadi game changer dalam layanan diagnostik kanker khususnya untuk teknologi Positron Emission Tomography (PET) Scan, yang selama ini sangat tergantung pada produk impor. 

“Ini adalah momen bersejarah, di mana Indonesia untuk pertama kalinya memproduksi dan mendistribusikan sendiri radiofarmaka. Ke depan, kami akan terus mengembangkan portofolio produk theranostic lainnya demi mendukung pelayanan kesehatan berbasis teknologi kedokteran nuklir,” kata Direktur Pengembangan Usaha PT Bio Farma (Persero), Yuliana Indriati dalam keterangan tertulis, Selasa (17/6/2025).

FloDeg diproduksi di fasilitas Cyclotron milik Bio Farma di Kawasan Industri Cikarang, Jawa Barat, dan memenuhi standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM serta protokol keselamatan radiasi dari BAPETEN.

"FloDeg menunjukkan kualitas tinggi dan aktivitas yang sesuai, bahkan melampaui harapan kami. Kami harap Bio Farma terus mengembangkan produk theranostic lainnya," kata Spesialis Kedokteran Nuklir RS Tzu Chi, dr. Aulia Huda.

Peluncuran dan distribusi perdana FloDeg menjadi bagian dari pelaksanaan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional dan membangun industri bioteknologi serta farmasi berteknologi tinggi sebagai sektor strategis negara.

Baru-baru ini Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, alasan warga Indonesia lebih memilih berobat kanker ke Malaysia dan Singapura.

Salah satunya, karena kurangnya rumah sakit yang menyediakan layanan PET atau CT Scan untuk deteksi kanker.

Di Malaysia ada sekira 20 RS yang menyediakan layanan PET Scan sementara di Singapura ada 17 RS. PET/CT scan memiliki peran penting dalam penanganan pasien onkologi.

Baca juga: Bio Farma Minta PMN Non Tunai Senilai Rp 68 M Berupa Fasilitas Produksi Vaksin

PET/CT dapat mendeteksi lesi kecil seperti metastasis atau tumor sekunder. Deteksi ini guna menentukan bagaimana penanganan pasien selanjutnya.

Merujuk badan kanker WHO (IARC) EHO ada sekira 20 juta kasus kanker baru di seluruh dunia dimana ada 9,7 juta kasus kematian.

Baca juga: Ini Strategi Bio Farma Tingkatkan Daya Saing dan Kejar Kemandirian Vaksin

Kanker paru-paru memiliki tingkat kejadian tertinggi kematian (12,4 persen), diikuti oleh kanker payudara (11,6 persen), kanker kolorektal (9,6 persen), kanker prostat (7,3 persen), dan kanker perut (4,9 persen).

Statistik kanker global ini cukup mengkhawatirkan, lantaran ada kebutuhan mendesak terhadap teknologi diagnostik dan terapi yang canggih untuk meningkatkan hasil pengobatan pasien. 

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved