Minggu, 26 April 2026

Gangguan Tiroid Bisa Dikenali Sejak Dini, Begini Cara Deteksi dan Pemeriksaannya

Gangguan kelenjar tiroid kerap kali tidak disadari oleh penderitanya karena gejalanya yang mirip dengan keluhan umum lain. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gangguan kelenjar tiroid kerap kali tidak disadari oleh penderitanya karena gejalanya yang mirip dengan keluhan umum lain. 

Baca juga: Metode Radio Frequency Ablation untuk Pengobatan Tiroid Tanpa Operasi

Tiroid adalah kelenjar kecil berbentuk seperti kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher, tepat di bawah jakun. Kelenjar ini berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh melalui produksi hormon tiroid, yaitu T3 (triiodotironin) dan T4 (tiroksin).

Deteksi dini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan tepat waktu, terutama untuk mencegah komplikasi serius seperti gangguan metabolisme hingga risiko kanker tiroid.


Hal inilah yang diungkapkan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes Eka Hospital BSD dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, FINASIM. 


Gangguan bentuk ditandai dengan munculnya nodul atau benjolan pada leher, sedangkan gangguan fungsi mencakup kondisi hipertiroid (kelebihan hormon tiroid) dan hipotiroid (kekurangan hormon tiroid). 


Bahkan, ada pula pasien yang mengalami keduanya sekaligus.


"Kalau kita bicara mengenai gangguan fungsi, harus mengenali keluhan-keluhan tadi, bisa pakai list pertanyaan atau kuesioner. Dilihat aja, kalau memang biar keluhannya jadi banyak yang positif, ya harus lanjut di pemeriksaan darah," jelas dr Dicky pada media briefing yang diselenggarakan di Jakarta Selatan, Senin (28/7/2025). 


Pemeriksaan laboratorium menjadi metode utama untuk memastikan kadar hormon tiroid. 


Pemeriksaan dilakukan terhadap dua jenis hormon, yakni FT4 (Free T4), yang merupakan hormon tiroid itu sendiri, dan TSH (Thyroid Stimulating Hormone), yaitu hormon dari kelenjar hipofisis yang memerintahkan tiroid untuk bekerja.


Pada hipertiroid, kadar FT4 akan tinggi sementara TSH rendah. 


Sebaliknya, pada hipotiroid, FT4 rendah dan TSH tinggi. 


Pemeriksaan ini sangat penting untuk mengetahui apakah keluhan pasien disebabkan oleh gangguan tiroid atau bukan.


Selain itu, penting pula untuk mengenali tanda fisik berupa benjolan di leher yang bisa jadi merupakan nodul tiroid. 


Untuk mendeteksi benjolan ini, dr. Dicky menyarankan metode periksa leher sendiri, seperti halnya periksa payudara sendiri pada perempuan.


"Ngadep aja depan kaca, agak menghadapi sedikit, dilihat di bagian tengahnya. Ada benjolan nggak simetris ke kanan-kiri. Terus terus nelan (sesuatu). Nah kalau benjolan di tiroid, dia pasti gerak kalau nelan. Karena dia nempel di salurannya," terang dr. Dicky.


Bila ditemukan benjolan mencurigakan, pemeriksaan lanjutan berupa USG (ultrasonografi) akan dilakukan untuk melihat karakteristik nodul, seperti bentuk, batas, dan apakah ada aliran darah yang memberi makan nodul tersebut. 


Dokter kemudian akan menggunakan sistem klasifikasi risiko bernama TIRADS (Thyroid Imaging Reporting and Data System), yang menilai risiko keganasan berdasarkan karakteristik USG. 


Skor TIRADS berkisar dari 1 (jinak) hingga 5 (ganas). Jika nodul mencurigakan, maka pasien akan dianjurkan menjalani biopsi. 


Tahap awal biasanya adalah biopsi jarum halus (FNA – Fine Needle Aspiration), yakni pengambilan sampel jaringan menggunakan jarum kecil. Akurasi metode ini cukup tinggi, mencapai 90 hingga 94 persen.


"Biopsi jarum halus itu pakai jarum kecil, bukan jarum yang mengambil darah. Nanti dokter 40-nya akan lihat luar mikroskop ada sel yang mencurigakan ganas apa enggak," jelas dr. Dicky. 


Dalam kasus tertentu, bisa dilanjutkan dengan biopsi jarum besar untuk hasil yang lebih detail, atau bahkan pemeriksaan genetik dari sampel yang diambil. 


Langkah ini sangat membantu menentukan apakah nodul bersifat jinak atau ganas tanpa harus langsung menjalani operasi.


Jika nodul terkonfirmasi ganas, maka operasi pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid akan menjadi pilihan. 


Namun, operasi tidak langsung dilakukan sebagai opsi awal karena dapat berdampak pada produksi hormon tiroid jangka panjang. 


Oleh karena itu, pendekatan bertahap lebih dianjurkan demi menjaga kualitas hidup pasien.


"Jadi sebenarnya kalau ada nodul tiroid, jangan khawatir dulu gitu. Karena sebagian besar biasanya jinak. 90 persen jinak. Tapi ada 10 persen yang dia ada kemungkinan ganas," ungkap dr. Dicky. 


Melalui pendekatan sistematis dan deteksi dini, gangguan tiroid termasuk yang berpotensi menjadi kanker dapat diidentifikasi dan ditangani secara efektif. 


Pemeriksaan rutin, kesadaran terhadap gejala, dan komunikasi terbuka dengan dokter menjadi kunci utama menjaga kesehatan tiroid tetap optimal.


 

--

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved