Pemerintah Buka Akses Penanganan Kanker Payudara, Penanganan Pasien Makin Presisi
Kanker payudara kini menjadi salah satu penyakit pemicu kematian di dunia dan juga di Indonesia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kanker payudara kini menjadi salah satu penyakit pemicu kematian di dunia dan juga di Indonesia jika penanganannya terlambat dilakukan.
Mengutip data epidemiologi, kasus kanker payudara di seluruh dunia mencapai 2,3 juta kasus dan menyebabkan sekitar 670.000 kematian pada 2022.
Kanker payudara bisa dihindari melalui upaya deteksi dini.
Dari hasil riset diketahui, deteksi dini dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup hingga 98 persen pada pasiennya.
Namun, tujuh dari sepuluh kasus kanker payudara di Indonesia baru terdeteksi pada tahap lanjut berdasar data yang dirilis Kompas.id.
Laporan Global Cancer Observatory tahun 2022 menyatakan, lebih dari 400.000 kasus kanker baru tercatat di Indonesia. Bagi banyak perempuan, diagnosis datang ketika pilihan pengobatan sudah semakin terbatas.
Ketua Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Endang Lukitosari dalam diskusi bertajuk āMenurunkan Kematian akibat Kanker Payudara di Indonesiaā di Jakarta, Senin, 29 September 2025 mengatakan, jumlah perempuan di Indonesia yang melakukan skrining kanker payudara masih kurang dari 30 persen.
Padahal, skrining ini amat penting untuk deteksi awal sehingga kasus kanker bisa ditemukan pada stadium dini.
Pemerintah sendiri melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah membuka akses bagi penanganan penderita kanker payudara lebih dini melalui penerbitan Nomor Izin Edar bagi dua produk AstraZeneca pada Oktober 2024 dan September 2025.
Di sisi lain, kemajuan ilmu pengetahuan terus membuka terapi presisi dalam penanganan kanker payudara, yang hingga kini masih menjadi jenis kanker dengan prevalensi tertinggi pada wanita di Indonesia.Ā
Terapi presisi kanker payudara tidak lagi terbatas pada pembagian sederhana HER2-positif dan HER2-negatif, namun menghadirkan kategori baru berdasarkan ekspresi dan profil mutasi, BRCA, HER2-Low, HER2- Ultralow, dan PIK3CA/AKT/PTEN yang membuka peluang bagi pendekatan terapi yang lebih presisi dan personal.
AstraZeneca memiliki terapi kanker payudara komprehensif yang disesuaikan dengan karakteristik penyakit pada setiap pasien.Ā
Setiap kanker payudara memiliki profil biologis yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan terapi yang personal danpresisi.
Sebagai contoh, untuk pasien dengan kadar HER2 tinggi maupun rendah, AstraZeneca mengembangkan terapi berbasis antibody-drug conjugate (ADC) yang bekerja secara tepat sasarandenganmenghantarkan obatlangsung ke sel kanker, sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap sel sehat.
Pada pasien dengan reseptor hormon positif (HR+), inovasi terapi hormonal generasi baru yang dikombinasikan dengan penghambat enzim AKT dirancang untuk mengatasi resistensi terhadap pengobatan sebelumnya dan memperpanjang kendali penyakit.
Sementara itu, pasien dengan mutasi gen BRCA, inovasi melalui terapi target memberikan harapan baru dengan menghambat kemampuan sel kanker memperbaiki diri, sehingga pertumbuhannya dapat dihentikan secara alami.
Untuk tipe kanker payudara yang lebih agresif seperti triple-negative,penelitian yang tengah dikembangkan oleh AstraZeneca berfokus pada kombinasi pendekatan berbasis antibody- drug conjugate (ADC) dan imunoterapi, yang diharapkan dapat membuka harapan baru bagi pasien dengan pilihan pengobatan yang masih terbatas saat ini.
āPendekatan berbasis sains menjadi fondasi bagi AstraZeneca dalam mengembangkan terapi yang efektif secara klinis dan memberikan nilai nyata bagi pasien."
"Inovasi ilmiah yang tepat sasaran adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang harapan bagi setiap pasien kanker,ā kata Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia dikutip Selasa, 14 Oktober 2025.
Dia menambahkan, kemajuan sains dalam penanganan kanker payudara ini akan semakin bernilai jika diiringi dengan akses yang merata bagi seluruh pasien.
Melalui peran aktif pemerintah dalam regulasi, pembiayaan, dan kemitraan lintas sektor, Indonesia berada dalam posisi strategis untuk memastikan pasien kanker payudara dapat menikmati manfaat dari terapi inovatif terkini dan sejajar dengan perkembangan ilmu pengetahuan global.
Hal ini menjadi krusial mengingat kanker payudara adalah kanker yang paling sering diderita wanita di Indonesia dan tetap menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi.
Pihaknya mengapresiasi peran krusial BPOM sebagai regulator kunci di bawah kepemimpinan Profesor Taruna Ikrar, yang secara konsisten mendukung percepatan akses dan registrasi terapi inovatif bagi pasien kanker payudara di Indonesia.
"Terbitnya regulasi BPOM yang mempersingkat jalur reliance menjadi 90 Hari Kerja menjadi bukti komitmen kuat dalam menghadirkan solusi kesehatan yang lebih relevan dan memberikan harapan baru bagi pasien kanker payudara dan keluarganya,ā ungkap Esra.
Baca juga: Nunung Penyintas Kanker Payudara, Sebut Ada Obat yang Diminum Seumur Hidup
Terobosan ilmiah dinilai menjadi langkah maju dalam bidang medis, dan memberikan harapan hidup pasien kanker payudara di Indonesia sekaligus mendorong sistem kesehatan yang lebih adil dan merata. (tribunnews/fin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-manekin-1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.