Mikroplastik di Air Hujan
Mengandung Mikroplastik! Jangan Sembarangan Manfaatkan Air Hujan di Jakarta, Ikuti Cara Aman Ini
Peneliti Dicky Budiman mengingatkan bahwa penggunaan air hujan, apalagi yang mengandung mikroplastik tidak bisa dilakukan sembarangan.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Air hujan di Jakarta diketahui mengandung mikroplastik dan polutan kimia.
- Mikroplastik ini hasil pencemaran udara, aktivitas industri, hingga sisa pembakaran bahan plastik.
- Penggunaan air hujan tidak bisa dilakukan sembarangan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Air hujan di Jakarta diketahui mengandung mikroplastik dan polutan kimia yang berasal dari pencemaran udara, aktivitas industri, hingga sisa pembakaran bahan plastik.
Hal ini terungkap dari penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Baca juga: Air Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik, Segera Mandi Air Bersih Usai Kehujanan?
Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru, terutama bagi masyarakat yang masih menggunakan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga.
Ahli kesehatan lingkungan dan peneliti Global Health Security Dicky Budiman mengingatkan bahwa penggunaan air hujan, apalagi yang mengandung mikroplastik tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Ketika sebagian masyarakat menggunakan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga, airnya harus disaring dan dimasak dengan benar, atau di-filtrasi (disaring) dengan sistem penyaringan berlapis. Misalnya menggunakan karbon atau ultrafiltration,” jelasnya kepada Tribunnews, Senin (20/11/2025).
Menurutnya, sistem penyaringan berlapis dapat mengurangi partikel mikroplastik dan bahan kimia berbahaya secara signifikan.
Baca juga: Riset BRIN: Air Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik, Ahli Ingatkan Bahaya Kesehatan
Namun, jika tanpa proses filtrasi dan pemanasan, air hujan bisa menjadi media masuknya partikel mikroplastik dan logam berat ke dalam tubuh.
Selain risiko kesehatan, air hujan juga dapat membawa jelaga dan mikroorganisme dari atmosfer.
Karena itu, Dicky menegaskan agar masyarakat tidak menjadikan air hujan sebagai air minum langsung, bahkan setelah direbus.
“Jangan sampai ada kebiasaan minum air hujan. Air hujan itu sudah tidak ideal diminum langsung karena mengandung polutan udara, debu logam berat, dan kini bahkan mikroplastik berukuran nano yang tidak bisa disaring secara tradisional,” tegasnya.
Dicky menambahkan, fenomena mikroplastik di air hujan adalah cerminan kualitas udara dan lingkungan yang menurun.
Upaya terbaik bukan sekadar memperbaiki cara penggunaan air hujan, tetapi juga mengurangi sumber pencemarannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Cuaca-Hujan-di-Solo-Jawa-Tengah-Kondisi-ini-juga-terjadi-beberapa-daerah.jpg)