Usia Berapa Idealnya Anak Sunat? Ini Saran Dokter Bedah
Perdebatan soal waktu sunat pada anak laki-laki masih sering terjadi di tengah masyarakat. Kapan idealya? Ini kata dokter bedah.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Waktu ideal kapan sunat pada anak laki-laki dilakukan masih sering terjadi di tengah masyarakat.
- Tak sedikit orang tua yang memilih menunda dengan alasan anak masih kecil, takut nyeri.
- Simak penjelasan dokter bedah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perdebatan soal waktu sunat pada anak laki-laki masih sering terjadi di tengah masyarakat.
Tak sedikit orang tua yang memilih menunda dengan alasan anak masih kecil, takut nyeri, atau menganggap sunat hanya urusan budaya dan agama.
Baca juga: Update Dugaan Malapraktik RS Mitra Sejati Medan: Pihak Korban Tolak Damai, Dokter Bedah Dilaporkan
Namun dari sisi medis, sunat atau yang kerap disebut khitan justru memiliki tujuan kesehatan yang sangat jelas, terutama untuk menurunkan risiko infeksi pada saluran kemih anak.
Dokter Spesialis Bedah Anak, dr. Andi Lestiono, Sp. BA, FIAPS, menjelaskan bahwa kondisi kulup yang masih panjang secara alami dapat menghambat aliran urine dan memicu penumpukan kotoran.
“Karena kulup yang panjang atau prepotium itu akan menutupi air kencingnya itu atau buang air kencingnya itu jadi terhambat atau semakin kecil gitu loh,” jelas dr. Andi pada live streaming Healthy Talk pada kanal YouTube Tribun Health, Minggu (28/12/2025).
Menurutnya, kondisi ini bersifat fisiologis pada anak laki-laki, tetapi perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.
Bisa Jadi Sumber Infeksi Tersembunyi
Salah satu alasan medis utama sunat dianjurkan adalah mencegah penumpukan smegma, yaitu kotoran berwarna putih yang terbentuk dari sisa urine dan sel kulit mati.
Lebih lanjut dr. Andi mengungkapkan bahwa smegma tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki, terutama bila kulup masih menutupi kepala penis.
“Dimana ketika belum hitam itu kotoran yang dinamakan smegma itu bisa mengumpul di dalam,” ujarnya.
Karena kulup masih sempit, sisa urine bisa mengendap dan menempel di area glans penis.
Jika kondisi ini bercampur dengan kuman atau bakteri, risiko infeksi pun meningkat.
Infeksi tersebut tidak hanya terbatas pada area luar, tetapi bisa menjalar ke saluran kemih bagian dalam, kandung kemih, bahkan hingga ureter.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ratusan-anak-ikuti-sunatan-massal-di-batam_20230624_223416.jpg)