Minggu, 10 Mei 2026

Perilaku Seksual di Transjakarta Munculkan Dampak Psikologis

Kasus perilaku seksual oleh dua orang pria di Transjakarta memicu kemarahan publik. Psikiater ungkap dampak psikologis.

Tayang:
Image by krakenimages.com on Freepik
Ilustrasi pelecehan seksual 

Ringkasan Berita:
  • Kasus perilaku seksual oleh dua orang pria di Transjakarta pancing kemarahan publik. 
  • Psikiater Lahargo Kembaren menilai, perilaku tersebut bukan sekadar melanggar norma.
  • Ini bisa menimbulkan dampak psikologis serius bagi orang yang melihat.

 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Kasus perilaku seksual oleh dua orang pria di Transjakarta memicu kemarahan publik.

Psikiater Lahargo Kembaren menilai, perilaku tersebut bukan sekadar melanggar norma, tetapi juga menimbulkan dampak psikologis serius bagi orang yang melihat.

Baca juga: Fakta-Fakta 2 Pria Berbuat Asusila di Bus Transjakarta, Kejiwaan Pelaku Bakal Diperiksa

Perilaku seksual di ruang publik dapat memicu rasa tidak aman, ketakutan, hingga trauma, terutama pada anak-anak serta individu yang memiliki riwayat kekerasan seksual. 

“Ruang publik seharusnya menjadi ruang yang aman, netral, dan bebas dari eksploitasi seksual,” ujarnya.

Ia menegaskan, tindakan seksual eksplisit di ruang publik tidak hanya melanggar norma sosial, tetapi juga hukum dan etika. 

Perilaku tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk pelecehan seksual tidak langsung terhadap orang-orang di sekitarnya.

Baca juga: 2 Pria yang Ditangkap usai Masturbasi di Bus Transjakarta Ternyata Teman Kerja

Secara psikologis, ini bukan sekadar urusan pribadi melainkan pelanggaran batas sosial.

"Karena itu perilaku seksual di ruang publik ini tidak dapat ditoleransi," tegasnya.

Dalam menyikapi kasus seperti ini perlu ketegasan dan kewarasan sekaligus.

Perilaku seksual di ruang publik tidak bisa ditoleransi, masyarakat harus tegas baik dari aspek hukum, etika, dan perlindungan publik.

Di sisi lain, masyarakat diharapkan tidak perlu melakukan persekusi, menstigma kelompok tertentu.

Belakangan ini, masyarakat dihebohkan oleh kasus dua orang laki-laki yang diduga berjanji bertemu dan melakukan perilaku seksual di dalam bus TransJakarta termasuk onani.

Kasus ini memunculkan banyak reaksi hingga perdebatan tentang orientasi seksual.

Penting untuk menempatkan kasus ini secara jernih dan ilmiah, agar tidak jatuh pada stigma, tetapi juga tidak menormalisasi perilaku yang jelas-jelas melanggar etika, hukum, dan kesehatan publik.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved