Jumat, 8 Mei 2026

Ramadan 2026

Tak Sekadar Lapar, Puasa Ganti ‘Bahan Bakar’ Otak dan Perkuat Mental

Ternyata puasa bukan sekadar tahan lapar! Dokter ungkap rahasia otak jadi lebih tajam & mental makin kuat saat puasa. Cek proses ilmiahnya!

Tayang:
Johns Hopkins Medicine
BOOSTER OTAK – Ilustrasi proses metabolisme sel otak yang bekerja lebih optimal saat menjalani ibadah puasa. Pakar medis menegaskan bahwa puasa memicu penggunaan keton sebagai bahan bakar berkualitas tinggi yang meningkatkan performa kognitif dan kesehatan mental. 
Ringkasan Berita:
  • Oktan Tinggi: Puasa mengubah lemak jadi keton, "bensin" kualitas super untuk sel otak.
  • Detoks Alami: Proses autophagy aktif saat puasa, sel tubuh "bersih-bersih" dari sampah biologis.
  • Mental Baja: Menahan lapar melatih kontrol diri dan meningkatkan rasa bahagia yang sehat.

Tag CMS: Puasa 2026 Kesehatan Otak Kesehatan Mental Manfaat Puasa Metabolisme Ketosis Autophagy dr Indah Puji Handayani Tips Sehat Ramadhan 2026

 
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang mengira puasa hanya soal menahan lapar dan haus. Padahal, saat tubuh tidak mendapat asupan lebih dari delapan jam, terjadi perubahan besar dalam sistem metabolisme yang berdampak langsung pada ketajaman otak dan stabilitas mental.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari RSUP Surakarta, dr. Indah Puji Handayani, Sp.KJ, M.Gizi, menjelaskan bahwa saat cadangan glukosa (karbohidrat) di otot dan hati menipis, tubuh secara cerdas beralih ke sumber energi lain, yaitu lemak.

“Pada saat puasa lebih dari delapan jam, tubuh itu unik. Kita punya cadangan tenaga dari lemak yang diolah melalui proses ketosis, sehingga bahan bakar utama otak berubah menjadi keton," ungkapnya dalam live streaming Healthy Talk di kanal YouTube Tribun Health, Selasa (3/3/2026).

Otak Gunakan 'Bensin' Oktan Tinggi

Menurut dr. Indah, ketosis ringan ini justru membuat sel saraf bekerja lebih optimal.

Ia mengibaratkan perubahan bahan bakar tersebut seperti beralih ke bensin dengan angka oktan yang lebih tinggi.

“Performanya menjadi lebih baik. Selain itu, puasa sekitar 12 hingga 16 jam juga memicu proses autophagy,” imbuhnya.

Autophagy adalah mekanisme alami sel untuk melakukan "pembersihan" internal dengan membuang komponen sel yang sudah rusak.

Proses ini terjadi karena tubuh mengalami stres metabolik ringan yang justru memicu adaptasi sel agar lebih panjang umur dan menurunkan risiko penyakit kronis.

Efek "Self-Efficacy" bagi Mental

Menariknya, manfaat puasa juga menyentuh kesehatan jiwa. Saat seseorang menahan keinginan instan untuk makan dan minum, bagian otak bernama prefrontal cortex yang berfungsi sebagai pusat kontrol diri menjadi aktif.

“Rasa senang saat puasa ini sebenarnya adalah rasa senang yang baik untuk kesehatan mental," lanjut dr. Indah.

Ketika berhasil melewati godaan lapar, muncul perasaan pencapaian diri atau self-efficacy.

Keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri ini meningkat drastis, apalagi jika dibalut dengan nilai spiritual yang dilakukan secara sukarela.

Kebiasaan menunda respons instan ini secara perlahan melatih seseorang untuk lebih sadar terhadap emosinya (mindfulness), sehingga pengelolaan stres menjadi jauh lebih baik dan perilaku menjadi lebih adaptif di kehidupan sehari-hari.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved