Rabu, 15 April 2026

Ramadan 2026

Batas Aman Gula Darah agar Diabetesi yang Berpuasa Tak Berujung Darurat

Bagi diabetesi, puasa tak hanya menahan lapar dan haus. Ini soal menjaga keseimbangan gula darah agar tidak jatuh terlalu rendah atau melonjak .

Shutterstock
Bagi diabetesi, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ini soal menjaga keseimbangan gula darah agar tidak jatuh terlalu rendah atau melonjak drastis. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Bagi diabetesi, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. 
  • Ini soal menjaga keseimbangan gula darah agar tidak jatuh terlalu rendah atau melonjak drastis.
  • Sampai batas mana diabetesi aman berpuasa?

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ramadan sering jadi momen refleksi, termasuk bagi penyandang diabetes. 

Namun satu pertanyaan selalu muncul: sampai batas mana diabetesi aman berpuasa?

Baca juga: Cegah Risiko Hipoglikemia & Hiperglikemia di Bulan Puasa, Diabetesi Bisa Lakukan 4 Tips Ini

Bagi diabetesi, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ini soal menjaga keseimbangan gula darah agar tidak jatuh terlalu rendah atau melonjak drastis.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes Eka Hospital BSD, Prof. dr. Hari Hendarto, Sp. P.D, Subsp. E.M.D. (K), Ph.D, MARS, kunci utamanya adalah kontrol dan persiapan.

“Secara medis, mayoritas penyandang diabetes tipe 2 yang gula darahnya terkontrol dengan baik diperbolehkan berpuasa,"ungkap dr Hari pada keterangannya, Rabu (4/2/2026). 

Namun, tidak semua pasien berada di zona aman.

Kenali Dua Ancaman Utama Saat Puasa

Ilustrasi sakit kepala berat.
Ilustrasi sakit kepala berat. (Shutterstock)

Tantangan terbesar diabetesi saat puasa adalah menjaga gula darah tetap stabil.

Ada dua risiko yang paling sering terjadi:

1. Hipoglikemia


Penurunan gula darah drastis di bawah 70 mg/dL. Gejalanya bisa berupa pusing, gemetar, lemas, bahkan pingsan. Kondisi ini biasanya terjadi di siang hari.

2. Hiperglikemia


Lonjakan gula darah yang tidak terkendali akibat asupan karbohidrat atau gula berlebih saat berbuka.

Dua kondisi ini bisa berbahaya jika tidak diantisipasi dengan baik.

Batas Aman: Kapan Harus Bertahan, Kapan Harus Berhenti?

Puasa tidak boleh memaksakan diri. Batas tegasnya jelas, segera batalkan puasa bila gula darah turun di bawah 70 mg/dL atau melonjak di atas 300 mg/dL.

“Segera batalkan puasa jika gula darah berada di bawah 70 mg/dL atau melonjak di atas 300 mg/dL. Nyawa dan kesehatan adalah prioritas utama dalam beribadah,"imbuhnya. 

Pesan ini penting. Banyak pasien menunda berbuka karena merasa “sayang” membatalkan puasa, padahal tubuh sudah memberi sinyal bahaya.

Siapa yang Perlu Penilaian Khusus?

Tidak semua diabetesi boleh langsung berpuasa.

Pasien dengan risiko sangat tinggi seperti diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol, gagal ginjal, atau sedang hamil memerlukan evaluasi ketat dari dokter.

Karena itu, check-up 2–4 minggu sebelum Ramadan sangat dianjurkan. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai apakah kondisi metabolik cukup stabil untuk menjalani puasa.

Pantau Mandiri, Jangan Menebak-nebak

Alat cek gula darah
Alat cek gula darah ()

Salah satu kesalahan paling umum adalah enggan cek gula darah karena takut membatalkan puasa.

Padahal tes darah jari tidak membatalkan puasa menurut fatwa medis dan agama.

Pengecekan ideal dilakukan pagi, siang, dan sore. Dengan begitu, diabetesi bisa mengambil keputusan berbuka secara tepat waktu jika diperlukan.

Bagi penyandang diabetes, puasa bukan soal kuat atau tidak kuat. Ini soal strategi.

Dengan pengawasan medis, pemantauan rutin, serta disiplin mengenali tanda bahaya, puasa tetap bisa dijalani tanpa mengorbankan keselamatan.

Ramadan seharusnya membawa ketenangan, bukan risiko darurat.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved