Rabu, 8 April 2026

Anak Demam Tinggi, Bolehkah Pakai Obat Dubur? Ini Penjelasan Dokter

Penggunaan metode yang didasarkan pada kebiasaan atau pengalaman sebelumnya bukan pada kebutuhan medis justru bisa buat penanganan demam tidak optimal

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
freepik
Ilustrasi demam 
Ringkasan Berita:
  • Penggunaan metode ini yang kerap didasarkan pada kebiasaan atau pengalaman sebelumnya, bukan pada kebutuhan medis
  • Oleh karena itu, orang tua diimbau untuk lebih memahami kapan metode ini diperlukan 
  • Anggapan bahwa obat melalui dubur bekerja lebih cepat juga tidak sepenuhnya tepat

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketika anak mengalami demam tinggi, kepanikan kerap membuat orang tua mencari cara tercepat untuk menurunkan suhu tubuh. Salah satu metode yang cukup sering digunakan adalah pemberian obat penurun panas melalui dubur, yang dianggap lebih praktis dan bekerja lebih cepat dibandingkan obat minum.

Baca juga: Pria asal Pinrang Bawa Sabu 17 Gram Seharga Rp9,4 Juta yang Disimpan dalam Dubur

Namun dibalik anggapan tersebut, terdapat pemahaman yang perlu diluruskan. Penggunaan obat melalui dubur ternyata tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan hanya dianjurkan dalam kondisi tertentu berdasarkan pertimbangan medis.

Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Kasih Ibu Solo, dr Raisa Amini, SpA, menegaskan bahwa obat penurun panas yang diberikan melalui dubur, seperti paracetamol, bukanlah pilihan utama dalam penanganan demam pada anak.

“Paracetamol yang dimasukkan lewat anus atau lewat dubur kita tidak gunakan secara rutin,” ujarnya dalam program Momspiration di kanal YouTube Tribun Health, Jumat (27/3/2026).

Menurutnya, metode ini hanya digunakan dalam kondisi khusus, terutama ketika anak tidak memungkinkan untuk mengonsumsi obat melalui mulut. Beberapa situasi yang dimaksud antara lain saat anak mengalami muntah terus-menerus, kesulitan menelan, atau berada dalam kondisi penurunan kesadaran.

Dalam kondisi tersebut, pemberian obat melalui dubur menjadi alternatif agar terapi tetap bisa diberikan. Namun, apabila anak masih dalam keadaan sadar dan mampu minum obat, metode oral tetap menjadi pilihan utama yang lebih dianjurkan.

Selain aspek medis, faktor kenyamanan anak juga menjadi pertimbangan penting. Pemberian obat melalui dubur dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, sehingga penggunaannya sebaiknya tidak dilakukan tanpa indikasi yang jelas.

Baca juga: Piala Dunia 2022: Pelatih Timnas Senegal Aliou Cisse Sakit Demam Jelang Lawan Inggris

Di sisi lain, anggapan bahwa obat melalui dubur bekerja lebih cepat juga tidak sepenuhnya tepat. Efektivitas obat tidak hanya ditentukan oleh cara pemberiannya, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh anak serta jenis obat yang digunakan.

Penggunaan metode ini yang kerap didasarkan pada kebiasaan atau pengalaman sebelumnya, bukan pada kebutuhan medis, justru berpotensi membuat penanganan demam menjadi kurang optimal.

Oleh karena itu, orang tua diimbau untuk lebih memahami kapan metode ini diperlukan dan kapan sebaiknya dihindari. Dengan pengetahuan yang tepat, penanganan demam pada anak dapat dilakukan secara lebih aman, efektif, dan tetap memperhatikan kenyamanan anak.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved