Ini Arti Warna Hijau hingga Merah di Kemasan Makanan, Pakar Ingatkan Soal Cara Membacanya
Pentingnya pendekatan komunikasi yang tepat agar Nutri-level efektif. Informasi yang disampaikan harus sederhana, jelas serta mampu ubah cara pandang.
Ringkasan Berita:
- Level A ditandai dengan warna hijau tua, yang menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak relatif rendah.
- Level B dan C berada di kategori menengah dengan warna yang bergradasi, menandakan kandungan gizi yang perlu diperhatikan.
- Adapun level D ditandai dengan warna merah, yang berarti produk tersebut memiliki kandungan GGL tinggi dan sebaiknya dibatasi konsumsinya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Upaya pemerintah untuk menekan laju penyakit tidak menular di Indonesia kini memasuki babak baru. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) resmi menerapkan sistem label gizi “Nutri Level” pada kemasan pangan olahan, sebuah kebijakan yang diharapkan dapat membantu masyarakat membuat pilihan makanan yang lebih sehat di tengah tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).
Baca juga: Kebijakan Nutri-Level Disetujui BPOM, Produk Pangan Akan Dipasangi Tanda Ini
Namun dibalik tujuan tersebut, para ahli mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan ini tidak hanya ditentukan oleh kehadiran label semata, melainkan juga oleh sejauh mana masyarakat memahami makna di balik informasi yang ditampilkan pada kemasan.
Melalui sistem Nutri-level, produk pangan olahan akan diberi penilaian berdasarkan kandungan gizinya dalam skala A hingga D. Label ini disertai kode warna yang dirancang agar mudah dikenali konsumen saat berbelanja. Level A ditandai dengan warna hijau tua, yang menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak relatif rendah sehingga lebih direkomendasikan untuk dikonsumsi.
Sementara itu, level B dan C berada di kategori menengah dengan warna yang bergradasi, menandakan kandungan gizi yang perlu diperhatikan. Adapun level D ditandai dengan warna merah, yang berarti produk tersebut memiliki kandungan GGL tinggi dan sebaiknya dibatasi konsumsinya, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah maju dalam memberikan panduan sederhana bagi masyarakat untuk mengenali kualitas gizi suatu produk secara cepat, tanpa harus membaca rincian komposisi yang sering kali rumit. Dalam praktiknya, Nutri-level diharapkan dapat menjadi “alarm visual” yang membantu konsumen mengambil keputusan lebih bijak saat memilih makanan sehari-hari.
Pakar Kesehatan Masyarakat Dicky Budiman menyebut, sistem ini merupakan instrumen penting dalam upaya mengendalikan epidemi penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas, yang selama ini menjadi beban besar dalam pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Ini adalah instrumen kesehatan masyarakat yang sebenarnya sangat vital dalam mengendalikan epidemi penyakit tidak menular di Indonesia,” ujarnya kepada Tribunnews, Selasa (7/4/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan besar dalam implementasi kebijakan ini, terutama terkait cara masyarakat menafsirkan label tersebut. Menurutnya, tidak semua konsumen akan langsung memahami bahwa perbedaan level mencerminkan tingkat risiko kesehatan.
Dicky menjelaskan, sebagian masyarakat berpotensi melihat label tersebut sebagai sekadar pilihan biasa dalam spektrum produk, bukan sebagai indikator bahaya yang perlu dihindari.
Baca juga: BPOM Terbitkan SE Antisipasi Penyalahgunaan Gas Tertawa N2O, Dibeli Hanya Untuk Industri
“Netralitas itu berbahaya dalam konteks desain label seperti A sampai D. Konsumen bisa saja menganggap level terendah hanya sebagai pilihan terakhir, bukan sebagai peningkatan risiko,” jelasnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat dalam keseharian banyak orang mengambil keputusan membeli secara cepat tanpa membaca atau memahami informasi secara mendalam. Tanpa edukasi yang memadai, label yang seharusnya menjadi panduan justru berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, Dicky menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang tepat agar Nutri-level benar-benar efektif. Informasi yang disampaikan harus sederhana, jelas, dan mampu mengubah cara pandang masyarakat dalam memilih makanan.
Dengan pemahaman yang baik, label Nutri-level tidak hanya menjadi informasi tambahan di kemasan, tetapi juga berperan sebagai alat bantu yang relevan dalam membentuk kebiasaan konsumsi yang lebih sehat. Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada sinergi antara regulasi, edukasi publik, serta kesadaran individu dalam menjaga kesehatan diri.
Baca juga: Wamenkes Sebut Pelaksanaan Imunisasi Campak untuk Nakes Tunggu Persetujuan BPOM
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dicky-budiman-1.jpg)