Minggu, 19 April 2026

Kontribusi Indonesia dalam Uji Klinis Kanker Global Minim, Kolaborasi Riset Mulai Dilakukan

Dari 894 uji klinis onkologi fase 2 dan 3 di Asia, Indonesia hanya terlibat dalam 2 studi atau sekitar 0,48 persen.

Tribunnews.com/istimewa
RISET KANKER - Kolaborasi riset mulai dilakukan untuk meningkatkan keterlibatan dalam penelitian klinis internasional. Kerjasama ini dilakukan oleh Siloam International Hospitals bersama ICON Clinical Research Limited (ICRL), sebuah organisasi riset global. 
Ringkasan Berita:
  • Keterlibatan Indonesia pada uji klinis kanker global masih terbatas.
  • Dari data diketahui  Indonesia hanya terlibat dalam 2 studi atau sekitar 0,48 persen dari 894 uji klinis onkologi fase 2 dan 3 di Asia.

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kontribusi Indonesia dalam uji klinis kanker global masih terbatas. 

Data menunjukkan bahwa dari 894 uji klinis onkologi fase 2 dan 3 di Asia, Indonesia hanya terlibat dalam 2 studi atau sekitar 0,48 persen.

Baca juga: Ini Alasan Skrining Kanker Perlu Dilakukan Rutin, Meski Tubuh Terasa Sehat

Kolaborasi riset mulai dilakukan untuk meningkatkan keterlibatan dalam penelitian klinis internasional.

Kerjasama ini dilakukan oleh Siloam International Hospitals bersama ICON Clinical Research Limited (ICRL), sebuah organisasi riset global.

The Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani oleh Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, Grace Frelita dan Vice President and TA Head, APAC Project Delivery ICON, Suhail Ali, di Banten pada Jumat (17/4).

Kerja sama ini mencakup pelaksanaan penelitian klinis dengan mengacu pada standar internasional, serta peningkatan kapasitas dalam pengelolaan uji klinis.

Kedua pihak juga akan melakukan koordinasi dalam pemilihan lokasi studi, pengelolaan operasional, serta pemenuhan aspek regulasi dan kualitas data.

“Kemitraan ini memperkuat kapasitas riset dan memperluas jangkauan internasional, serta membuka peluang akses lebih awal bagi pasien di Indonesia terhadap terapi dan pengobatan baru,” kata dr. Grace.

Ditambahkan Suhail Ali, Indonesia memiliki potensi besar dalam penelitian dan pengembangan klinis.

Pihaknya yakin kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan terapi transformatif dan meningkatkan akses masyarakat terhadap penelitian berkualitas tinggi.

Selain itu, kerja sama diarahkan pada peningkatan efisiensi pelaksanaan studi, termasuk percepatan tahap awal penelitian (start-up) dan penguatan koordinasi antar tim.

“Kami akan memberikan dukungan dalam proses identifikasi dan pengembangan peluang uji klinis global,” urai Suhail.

Melalui kerja sama ini, diharapkan pelaksanaan penelitian klinis di Indonesia dapat berjalan lebih terstruktur, dengan kualitas data dan kepatuhan regulasi yang lebih terjaga. Serts meningkatkan keterlibatan Indonesia dalam studi klinis internasional.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved