Agar Tak Salah Amati Pertumbuhan Anak, Begini Cara Ukur Tinggi Badan yang Benar
Banyak orang tua rutin mengukur tinggi badan anak di rumah, tetapi caranya salah. Padahal ini berdampak pada kesimpulan tumbuh kembang anak.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Banyak orang tua rutin mengukur tinggi badan anak di rumah, tetapi cara yang digunakan sering keliru.
- Kesalahan kecil dalam teknik pengukuran bisa berujung pada kesimpulan yang salah tentang tumbuh kembang anak.
- Tak sekadar ukuran, ada tahapan penting yang harus dilakukan agar hasilnya benar-benar bermakna.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang tua rutin mengukur tinggi badan anak di rumah, tetapi tanpa disadari, cara yang digunakan sering keliru.
Padahal, kesalahan kecil dalam teknik pengukuran bisa berujung pada kesimpulan yang salah tentang tumbuh kembang anak.
Baca juga: Kerap Luput dari Perhatian, Kualitas dan Durasi Tidur Aspek Penting Tumbuh Kembang Anak
Dokter spesialis dari Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI, Prof. dr. Jose R.L. Batubara, Sp.A, Subsp.Endo(K), Ph.D, menegaskan bahwa proses pemantauan pertumbuhan anak tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Kalau kita jadi dokter anak itu, kerjanya mesti ngukur. Ngukur tinggi badan, berat badan. Ini adalah yang kita lakukan untuk melihat ini anak bertumbuh normal atau enggak,” ujarnya pada media briefing virtual, Senin (20/4/2026).
Namun, pengukuran saja belum cukup. Ada tahapan penting yang harus dilakukan agar hasilnya benar-benar bermakna.
Pengukuran Harus Akurat, Tidak Boleh Asal
Menurut Prof Jose, akurasi menjadi kunci utama. Kesalahan teknik sekecil apa pun bisa memengaruhi hasil.
Ia mencontohkan, posisi tubuh anak saat diukur harus benar-benar tegak.
“Jadi, kakinya rapat, badannya tegak lurus, kalau disandarkan di dinding, dia harus punggungnya rata, dan menghadap ke depan dengan akurat,” jelasnya.
Untuk anak di bawah dua tahun, pengukuran dilakukan dalam posisi tidur, sementara di atas dua tahun dilakukan berdiri.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah posisi kaki terbuka atau tubuh tidak lurus, yang membuat hasil tinggi badan tampak lebih pendek dari sebenarnya.
Tidak Cukup Sekali Ukur
Banyak orang tua merasa cukup dengan satu kali pengukuran. Padahal, itu tidak cukup untuk menilai pertumbuhan anak.
“Kalau kita cuma sekali mengukur tinggi badan ini, kita cuma mendapatkan identifikasi perawakan ini. Dia pendek, dia tinggi, atau dia normal. Kita tidak bisa melihat proses pertumbuhan anak,” tegas Prof Jose.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Dua-fasilitator-tersenyum-saat-mengukur-tinggi-badan-anak.jpg)