70 Persen Orang Percaya Misinformasi Kesehatan, Ini Temuan Survei Global
Survei global menunjukkan lebih dari dua pertiga orang percaya pada setidaknya satu klaim kesehatan yang tidak terbukti secara ilmiah.
Ringkasan Berita:
- Survei global menunjukkan lebih dari dua pertiga orang percaya pada setidaknya satu klaim kesehatan yang tidak terbukti secara ilmiah.
- Fenomena ini terjadi lintas negara dan tidak hanya pada kelompok dengan pendidikan rendah.
- Banjir informasi yang saling bertentangan menjadi faktor utama meningkatnya keraguan terhadap sains.
TRIBUNNEWS.COM - Lebih dari dua pertiga masyarakat percaya setidaknya satu klaim kesehatan yang salah atau belum terbukti—seperti anggapan bahwa mengonsumsi paracetamol saat hamil menyebabkan autisme—menurut survei terbaru.
Dilansir Nature.com, hasil ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang mulai meragukan bukti ilmiah.
Survei terhadap lebih dari 16.000 orang di 16 negara ini menanyakan apakah mereka percaya pada berbagai klaim yang tidak didukung penelitian, termasuk bahwa “risiko vaksinasi anak lebih besar daripada manfaatnya”, “fluoride dalam air berbahaya”, dan “susu mentah lebih sehat daripada susu pasteurisasi.”
Untuk setiap pernyataan, sekitar 25 persen hingga 32% responden mengatakan mereka percaya, dan 17% hingga 39% lainnya mengaku tidak yakin.
Secara total, 70% responden mempercayai setidaknya satu klaim tersebut. Temuan ini—yang belum melalui proses peer review—dipublikasikan oleh Edelman Trust Institute di New York dan disebut sebagai sesuatu yang “mengejutkan.”
Hasil ini membantah anggapan bahwa kepercayaan terhadap klaim seperti ini hanya dimiliki kelompok kecil. Menurut David Bersoff, ini bukan sekadar masalah kelompok minoritas.
Heidi Larson juga menyatakan bahwa jumlah orang yang meragukan bukti ilmiah memang terus meningkat dan perlu mendapat perhatian.
Baca juga: Berapa Tekanan Darah Ideal? Studi Korea Ungkap Angka yang Selama Ini Diperdebatkan
Klaim Kontroversial
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa banyak orang mempertanyakan konsensus ilmiah, terutama dalam isu sensitif seperti vaksin.
Studi global tahun 2023 menemukan bahwa selama pandemi COVID-19, kepercayaan terhadap pentingnya vaksin anak menurun di 52 dari 55 negara.
Survei tahun ini oleh KFF menemukan bahwa 34% orang dewasa di AS percaya bahwa konsumsi paracetamol saat hamil dapat meningkatkan risiko autisme, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya.
Klaim ini juga didukung oleh Robert F. Kennedy Jr. dan gerakan Make America Healthy Again. Namun survei menunjukkan bahwa kepercayaan tersebut tidak hanya terjadi di AS—di banyak negara seperti Brasil, Afrika Selatan, India, Jerman, dan Inggris, setidaknya setengah populasi percaya pada satu atau lebih klaim tersebut.
Menariknya, orang yang mempercayai beberapa klaim ini tidak selalu kurang pendidikan. Banyak di antaranya berpendidikan tinggi dan aktif mengonsumsi berita kesehatan.
Menurut Bersoff, masalah utamanya adalah banjir informasi yang saling bertentangan, baik dari media sosial, berita, maupun lingkungan sekitar. Survei di Inggris menunjukkan hampir 40% responden merasa informasi tentang sains terlalu banyak sehingga sulit menentukan mana yang benar.
Pergeseran Kepercayaan
Secara umum, kepercayaan publik terhadap sains masih relatif tinggi. Di AS, 77% orang dewasa pada 2025 mengatakan mereka percaya ilmuwan bertindak demi kepentingan publik, menurut Pew Research Center.
Namun angka ini menurun dari 86% pada 2019, sebelum pandemi.
Bersoff menjelaskan bahwa banyaknya “ahli” dan sumber informasi membuat otoritas ilmuwan menjadi lebih tersebar. Semakin banyak sumber yang dianggap kredibel, semakin besar kemungkinan orang menyimpang dari pandangan ilmiah arus utama.
Pakar lain menekankan pentingnya tidak meremehkan masyarakat yang mempertanyakan sains. Jika ilmuwan tidak mampu berkomunikasi dengan jelas dan mudah dipahami—terutama di media sosial—maka masyarakat akan mencari informasi dari sumber lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/MISINFORMASI-KESEHATAN-Ilustrasi-seseorang-di-antara-du.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.