Kasus Daycare Yogya Bikin Orang Tua Diliputi Rasa Bersalah, Psikolog Ingatkan Hal Ini
Perasaan ini muncul sebagai bentuk refleksi diri, seolah-olah mereka gagal melindungi buah hati di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman buat anak
Ringkasan Berita:
- Memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi, termasuk rasa bersalah, merupakan bagian dari proses yang wajar.
- Dalam konteks ini, memaafkan diri sendiri menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan.
- Mereka justru berisiko kehilangan kemampuan untuk hadir secara utuh bagi anak yang sedang mengalami trauma.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kasus dugaan kekerasan anak di Little Aresha Daycare, Yogyakarta, tak hanya menyita perhatian publik karena aspek hukumnya, tetapi juga membuka luka emosional yang dalam bagi para orang tua. Di tengah terungkapnya dugaan penganiayaan dan penelantaran yang terjadi secara sistematis, banyak orang tua terutama yang anaknya menjadi korban dihantui rasa bersalah yang datang tanpa diundang. Perasaan ini muncul sebagai bentuk refleksi diri, seolah-olah mereka gagal melindungi buah hati di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman.
Baca juga: Tangis Anak di Daycare Jogja: Kekerasan Terjadi Sistematis, Orangtua Dapat Pendampingan
Psikolog anak dan keluarga, Irma Gustiana Andriani, menjelaskan bahwa rasa bersalah tersebut merupakan respons emosional yang sangat wajar. Menurutnya, hal itu justru menunjukkan adanya kepedulian dan keterikatan yang kuat antara orang tua dan anak.
“Rasa bersalah itu hampir pasti muncul, dan itu tanda bahwa orang tua peduli,” ujarnya saat dihubungi, Senin (27/4/2026).
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perasaan tersebut bisa menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik. Ketika orang tua terlalu larut dalam penyesalan, mereka justru berisiko kehilangan kemampuan untuk hadir secara utuh bagi anak yang sedang mengalami trauma.
Dalam situasi seperti ini, anak membutuhkan kehadiran orang tua yang stabil, tenang, dan mampu menjadi tempat aman. Jika orang tua terus terjebak dalam rasa bersalah, fokus terhadap kebutuhan emosional anak bisa terganggu.
Irma menekankan pentingnya perubahan cara pandang dalam menyikapi kondisi tersebut. Alih-alih terus menyalahkan diri sendiri, orang tua perlu beralih pada bentuk tanggung jawab yang lebih sehat.
“Penting untuk menggeser dari ‘menyalahkan diri’ ke ‘bertanggung jawab secara sehat’,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa orang tua memang tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi. Namun, mereka tetap memiliki kendali penuh atas langkah yang diambil setelah kejadian tersebut.
Memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi, termasuk rasa bersalah, merupakan bagian dari proses yang wajar. Namun, hal itu tidak boleh berhenti hanya pada penyesalan semata. Fokus utama tetap pada bagaimana orang tua bisa hadir dan mendampingi anak dalam proses pemulihan.
Lebih jauh, Irma mengingatkan bahwa anak tidak membutuhkan sosok orang tua yang sempurna. Yang dibutuhkan justru adalah kehadiran yang konsisten dan penuh empati.
Baca juga: Kasus Kekerasan Anak di Daycare Yogya, Psikolog Ungkap Cara Tepat Dampingi Korban
“Anak tidak butuh orang tua yang sempurna, mereka butuh orang tua yang cukup hadir, cukup tenang, dan cukup kuat untuk menemani proses pemulihan,” tuturnya.
Dalam konteks ini, memaafkan diri sendiri menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan. Sebab, ketika orang tua mampu berdamai dengan perasaan bersalahnya, mereka akan lebih siap menjadi tempat berlindung yang aman bagi anak—membantu mereka perlahan bangkit dari trauma dan kembali merasa aman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kasus-kekerasan-di-daycare-Little-Aresha-Yogyakarta.jpg)