Kamis, 7 Mei 2026

Ancaman Hantavirus

Bukan Lockdown, Epidemiolog Sarankan Strategi Ini Agar Indonesia Siap Hadapi Virus Hanta 

Virus Hanta (Hantavirus) mewabah di kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik . Bagaimana sebaiknya Indonesia menghadapimya?

Tayang: | Diperbarui:
iStock
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) disebarkan oleh tikus, dan sangat jarang dari orang ke orang 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Virus Hanta (Hantavirus) jadi perhatian.
  • Virus ini dikabarkan mematikan di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026.
  • Siapkah Indonesia hadapi ini? Ini strategi yang ditawarkan epidemiolog.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Virus Hanta (Hantavirus) jadi perhatian usai terjadinya wabah mematikan di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026.

Hingga 5 Mei 2026, dilaporkan 3 orang meninggal dunia. Walau demikian, secara global, WHO menilai risiko penyebaran ke masyarakat umum masih tergolong rendah.

Baca juga: Panduan WHO untuk Hadapi Ancaman Hantavirus Setelah Penyebaran di Kapal Pesiar

Di tengah kekhawatiran virus Hanta ini, langkah konkret perlu menjadi kunci utama.

Epidemiolog Dicky Budiman menegaskan bahwa respons Indonesia harus fokus pada deteksi dini dan pengendalian lingkungan.

KAPAL MV HONDIUS. Tiga penumpang tewas di kapal pesiar Atlantik akibat dugaan hantavirus, WHO selidiki wabah langka di tengah laut.
KAPAL MV HONDIUS. Tiga penumpang tewas di kapal pesiar Atlantik akibat dugaan hantavirus, WHO selidiki wabah langka di tengah laut. (cruisemapper)

Langkah pertama adalah memperketat pengawasan di pelabuhan dan bandara.

“Dan yang harus dilakukan tentu adalah pelabuhan ini harus meningkatkan yang disebut Port Health Strengthening,"ungkapnya pada Tribunnews, Rabu (6/5/2026). 

Port Health Strengthening (Penguatan Kesehatan Pelabuhan) adalah upaya peningkatan kapasitas, fungsi, dan pelayanan di pelabuhan atau titik masuk negara (Points of Entry). 

Upaya ini untuk mencegah dan merespons penyebaran penyakit menular internasional
Port Health Strengthening mencakup:

  • 1. Screening pelaku perjalanan
  • 2. Identifikasi riwayat perjalanan
  • 3. Pemantauan gejala

Isolasi dan Rujukan Cepat

Jika ditemukan kasus suspek, penanganan harus cepat dan tepat.

“Jadi isolasi kasus suspeknya. Tersangka suspek ini harus diisolasi segera dengan gejala-gejala tadi,"imbuhnya. 

Pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas ICU untuk penanganan lanjutan.


Jangan Salah Diagnosis

Salah satu tantangan terbesar adalah kemiripan gejala dengan penyakit lain.

“Karena bisa jadi itu leptospirosis, dengue, atau pneumonia berat,"lanjutnya.

Ini membuat diagnosa banding menjadi sangat penting agar tidak terjadi kesalahan penanganan.

Fokus Utama: Lingkungan

Dicky menekankan bahwa kunci pencegahan bukan hanya pada manusia, tetapi lingkungan.

Pengendalian tikus menjadi langkah paling krusial.

Tidak boleh ada:

  • Tikus di kapal atau pelabuhan
  • Kotoran atau urin tikus
  • Sarang rodensia
  • Selain itu, sanitasi juga harus diperketat:
  • Disinfeksi ruang tertutup
  • Ventilasi yang baik
  • Pengelolaan limbah yang benar
  • Edukasi Masyarakat

Masyarakat juga perlu berperan aktif:

  • Hindari area kotor
  • Tidak kontak dengan tikus
  • Gunakan masker di area berisiko
  • Rutin cuci tangan

Hindari Panik, Perbaiki Persepsi

Dicky mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya virusnya.

Tetapi bagaimana masyarakat memahami risiko tersebut.

Panik berlebihan bisa sama berbahayanya dengan meremehkan situasi.


Alarm yang Harus Diwaspadai

Tenaga kesehatan juga diminta waspada terhadap tanda serius:

Klaster pneumonia tidak jelas

Kematian cepat dengan gangguan pernapasan berat


Ini harus dianggap sebagai potensi wabah zoonosis hingga terbukti sebaliknya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved