Minggu, 10 Mei 2026

Wabah Hantavirus

Hantavirus Sulit Dikenali, Gejalanya Mirip Flu hingga DBD, Bisa Muncul 2 Bulan Setelah Paparan

Hantavirus disebut sulit dikenali sejak awal.Gejalanyai sangat mirip dengan penyakit lain seperti flu, demam berdarah, hingga pneumonia.

Tayang:

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Hantavirus disebut sulit dikenali sejak awal.
  • Gejala infeksi virus ini sangat mirip dengan penyakit lain seperti flu, demam berdarah, hingga pneumonia.
  • Virus hanta ini masa muncul gejalanya cukup lama, bahkan bisa 2 bulan usai terpapar.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Virus hanta atau Hantavirus disebut sebagai salah satu penyakit yang sulit dikenali sejak awal.

Mengapa sulit dikenali? Ini karena gejala infeksi virus ini sangat mirip dengan penyakit lain yang lebih umum ditemukan di Indonesia, seperti flu, demam berdarah, hingga pneumonia.

Baca juga: Eks Pelatih Southampton Ceritakan Pengalaman Terinfeksi Hantavirus: Rasanya Seperti Ditusuk Pisau

Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya sekaligus Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof DR Dr Dominicus Husada DTM&H MCTM(TP), mengatakan banyak pasien awalnya hanya mengeluhkan gejala ringan.

“Gejalanya seperti orang sedang selesma, demam, sakit kepala mungkin, nyeri-nyeri otot, terus merasa capek,” ujar Prof Dominicus pada media briefing virtual, Jumat (8/5/2026). 

Tak sedikit penderita juga mengalami rasa lemas berlebihan.

“Merasa lemes, ingin tidur terus. Tidak ada satu yang spesifik,” katanya.

Karena tidak khas, banyak orang kemungkinan tidak sadar pernah terpapar virus ini.

Padahal dalam beberapa kasus, kondisi dapat memburuk sangat cepat.

Bisa Baru Muncul Setelah 2 Bulan

Ilutrasi batuk pilek.
Ilutrasi batuk pilek. (Shutterstock)

Menurut Prof Dominicus, salah satu tantangan terbesar virus hanta adalah masa muncul gejalanya yang cukup lama.

“Gejala itu bisa muncul sampai 2 bulan setelah kontak dengan tikusnya,” jelasnya.

Meski begitu, kebanyakan kasus muncul dalam rentang satu hingga enam minggu setelah paparan.

“Tapi paling sering di bawah 6 minggu. Lebih sering lagi 1-2 minggu pertama,” lanjutnya.

Hal ini membuat banyak pasien sulit mengingat kapan dan di mana mereka kemungkinan terpapar tikus pembawa virus.

Apalagi penularan sering terjadi di tempat tertutup yang jarang dicurigai.

“Makin tertutup tempat itu, makin besar kemungkinan untuk berjadi,” ujarnya.

Bisa Menyerang Paru atau Ginjal

Ilustrasi ginjal
Ilustrasi ginjal (medanta.org)

Prof Dominicus menjelaskan penyakit akibat virus hanta dapat berbeda-beda tergantung jenis virusnya.

Di wilayah Amerika, virus hanta lebih sering menyebabkan gangguan paru berat yang disebut HCPS atau Hantavirus Pulmonary Syndrome.

“HCPS adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome. Sesuai namanya, yang terutama terjadi adalah kegagalan pernafasan,” katanya.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal paru berat dalam waktu cepat.

“Kematiannya bisa mencapai separuh, 50 persen,” ujar Prof Dominicus.

Sedangkan di wilayah Eropa dan Asia, virus lebih sering menyebabkan gangguan ginjal dan perdarahan yang disebut HFRS.

“Sedangkan satunya HFRS itu sesuai namanya juga Renal Syndrome. Ini adalah gangguan ginjal,” jelasnya.

Karena gejalanya bisa menyerupai penyakit lain, diagnosis sering terlambat.

“Nanti labnya itu menurun, trubusinnya menjadi rendah seperti kasus demam berdarah,” katanya.

Hantavirus Sudah Terdeteksi Indonesia

Prof Dominicus menegaskan Indonesia sebenarnya sudah lama menemukan kasus hantavirus.

“Jadi sekali lagi, bukan barang baru,” ujarnya.

Data Kementerian Kesehatan mencatat ada 23 kasus virus hanta di Indonesia yang tersebar di sembilan provinsi.

DKI Jakarta dan Yogyakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak.

“DKI mempunyai 6 kasus. Jogja juga 6 kasus,” katanya.

Namun menurut Prof Dominicus, risiko penularan luas tetap rendah.

“Karena ini bukan COVID-19, bukan influenza,” pungkasnya. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved