Selasa, 12 Mei 2026

Mengenal Food Noise, Pikiran Obsesif Ingin Terus Makan Sang Pemicu Obesitas

Food noise atau pikiran obsesif ingin makanan bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan jadi kendala seseorang saat mengalami obsesitas.

Tayang:
Penulis: Choirul Arifin
Tribunnews.com/isti
MENGATASI FOOD NOISE - Dokter Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK, Subsp.KM, Sp.KKLP, AIFO-K, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) di acara diskusi 'Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas” di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Food noise atau pikiran obsesif ingin makanan bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan menjadi hambatan utama pada seseorang saat mengalami obsesitas dan berupaya menurunkan berat badan.
  • Data World Obesity Atlas 2022 menyebutkan, Indonesia menempati urutan ke-3 dari 10 negara di Asia Tenggara dengan estimasi prevalensi obesitas tertinggi.
  • Tumpukan kalori di tubuh yang tidak dibakar untuk berbagai aktivitas mendatangkan risiko yang berbahaya bagi kesehatan di masa datang.

 

TRIBUNNEWS.COM - Obesitas kini menjadi salah satu tantangan utama di sektor kesehatan. Sejak Maret 2025, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) sudah menyatakan obsesitas sebagai sebuah penyakit, sama seperti asma dan penyakit jantung. 

Begitu dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai asosiasi kesehatan di seluruh dunia sudah menyatakan obesitas sebagai penyakit.

Baca juga: Menkes Bongkar Bahaya Obesitas, Bukan Soal Gemuk Tapi Bisa Pangkas Kualitas Hidup

"Agar tidak lagi obesitas, mindset kita harus dibenahi. Dulunya, saya sering lupa kalau sudah makan. Mindset itu ada di bagian otak kita," ungkap dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK, Subsp.KM, Sp.KKLP, AIFO-K, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) di acara diskusi 'Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas” di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Dokter Iflan mendefinisikan food noise sebagai pikiran obsesif tentang makanan yang mendorong seseorang ingin terus makan, bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan.

Food noise bukan sekadar keinginan makan biasa, tetapi mencerminkan bagaimana otak merespons makanan, stres, kebiasaan, dan lingkungan. Fenomena ini kini semakin diakui dalam literatur ilmiah sebagai bagian dari mekanisme biologis obesitas

"Setelah makan biasanya kita merasakan kenyang dan ngantuk. Tapi kalau tiba-tiba setelah itu masih pengen makan lagi, misalnya makan pisang keju cokelat, lalu pengen makan burger juga. Itu namanya food noise," ujarnya.

Hasrat ingin makan terus-menerus seperti itu yang menjadi pemicu obesitas, alias kebeihan berat badan yang menjadi sumber segala sumber penyakit di kemudian hari jika tidak segera disadari dan diatasi serius.

"Yang seharusnya kita makan cukup dengan 2.000 kalori, food noise membuat porsi jadi 4.000 kalori, dan ini jadi beban buat tubuh. Food noise itu muncul dari hayalan, hayalan ingin makan sesuatu," jelasnya.

Dokter Iflan menambahkan, tumpukan kalori di tubuh yang tidak dibakar untuk berbagai aktivitas mendatangkan risiko yang berbahaya bagi kesehatan. "Food noise mengganggu produktivitas dan mengganggu tabungan juga, hidup jadi lebih boros," kata dia.

Ketika seseorang sudah mengalami obsesitas agar efektif penanganannya harus dilakukan komprehensif, secara tim dan melibatkan keluarga.

Obesitas sendiri merupakan penyakit kronis yang kompleks dan tidak semata-mata dipengaruhi oleh kemauan atau pola makan.

Mengutip World Obesity Atlas 2022, Indonesia menempati urutan ke-3 dari 10 negara di Asia Tenggara dengan estimasi prevalensi obesitas tertinggi. Di balik angka tersebut, food noise menjadi faktor yang sering tidak disadari. Meski terdengar seperti istilah baru, konsep ini telah lama dikenal dan kini semakin didukung oleh literatur ilmiah.

Berbeda dengan rasa lapar, yang merupakan sinyal alami tubuh, food noise adalah dorongan pikiran tentang makanan yang persisten dan intrusif, bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan.

Kondisi ini tidak hanya memicu makan berlebihan (overeating), tetapi juga menimbulkan beban mental seperti rasa bersalah dan kecemasan, serta menyulitkan individu menjaga pola makan secara konsisten. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved