Wabah Hantavirus
Virus Hanta Bisa Menular dari Kotoran Tikus di Rumah, Kemenkes Ingatkan Waspadai Demam hingga Sesak
Isu hantavirus menjadi perhatian karena sumber penularannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Isu hantavirus menjadi perhatian karena sumber penularannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
- Di Indonesia kasus virus hanta mengalami peningkatan.
- Virus ini bisa berasal dari rumah yang banyak tikus, gudang tertutup, hingga area bekas banjir.
- Waspadai jika sudah demam disertai sesak napas.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Hanta atau Hantavirus setelah jumlah kasus terkonfirmasi di Indonesia mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir.
Isu hantavirus menjadi perhatian karena sumber penularannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Baca juga: Dokter Salah Kira Gejala Hantavirus sebagai Kecemasan, Penumpang Kapal MV Hondius Kini Kritis
Mulai dari rumah yang banyak tikus, gudang tertutup, hingga area bekas banjir.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni mengatakan, hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) seperti yang dilaporkan pada kapal pesiar MV Hondius.
Kasus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus.
“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar dr. Andi Saguni dikutip dari website resmi Kementerian Kesehatan, Selasa (12/5/2026).
Suspek Hantavirus dari 2024-2026
Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS.
Kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat hingga Nusa Tenggara Timur.
Tren kasus juga menunjukkan peningkatan. Pada 2024 ditemukan satu kasus terkonfirmasi, lalu meningkat menjadi 17 kasus pada 2025 dan lima kasus hingga Mei 2026.
Warga Tak Perlu Panik, Tapi Harus Waspada
Menurut dr. Andi, meningkatnya jumlah kasus salah satunya dipengaruhi kemampuan deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium yang kini semakin kuat.
“Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan,” katanya.
Pemerintah menilai peningkatan temuan kasus justru menunjukkan sistem pengawasan kesehatan semakin aktif dalam mendeteksi penyakit menular sejak dini.
Karena itu, masyarakat diminta tetap tenang sambil meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya tikus.
Gudang Tertutup hingga Area Banjir Jadi Faktor Risiko
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Infografis-Waspada-Hantavirus-di-Indonesia_20260508_220342.jpg)