Kamis, 4 Juni 2026

Jangan Anggap Sepele Bintitan Berulang, Dokter Ungkap Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius

Namun dokter mata mengingatkan, tidak semua benjolan di kelopak mata bisa dianggap bintitan biasa. Terutama jika muncul berulang di lokasi yang sama.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi
TIROID MATA - Dokter Spesialis Mata RS Pondok Indah–Puri Indah, dr. Tri Wahyu, Sp.M menjelaskan kondisi thyroid eye disease yang dapat menyebabkan mata tampak melotot, kelopak sulit menutup, hingga penglihatan ganda di Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Masyarakat sering menyebut semua benjolan kelopak mata sebagai bintitan.
  • Tidak semua benjolan di kelopak mata bisa dianggap bintitan biasa. Terutama jika muncul berulang di lokasi yang sama.
  • Salah satu kondisi yang dapat menyerupai bintitan adalah karsinoma sebasea, yang merupakan jenis kanker kulit langka dan agresif 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hampir semua orang pernah mengalami bintitan. Kelopak mata terasa nyeri, merah, bengkak, lalu muncul benjolan kecil yang mengganggu aktivitas.

Sebagian besar kasus memang ringan. Namun dokter mata mengingatkan, tidak semua benjolan di kelopak mata bisa dianggap bintitan biasa. Terutama jika muncul berulang di lokasi yang sama.

Dokter Spesialis Mata RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Tri Wahyu, Sp.M mengatakan, masyarakat sering menyebut semua benjolan kelopak mata sebagai bintitan.

Padahal, secara medis ada beberapa kondisi berbeda.

Ternyata Ada Dua Jenis Bintitan

Menurut dr. Tri, bintitan yang paling sering ditemukan terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu hordeolum dan kalazion.

Hordeolum umumnya muncul akibat infeksi pada kelenjar di tepi kelopak mata.

Biasanya terasa nyeri, tampak merah, dan lebih cepat meradang. Sementara kalazion lebih berkaitan dengan penyumbatan kelenjar minyak di kelopak mata.

Benjolan cenderung lebih keras dan tidak selalu terasa sakit.

“Untuk awam iya, dimanapun posisinya disebut bintitan. Mau di tepi kelopak banget atau di atasnya lagi tetap disebutnya bintitan. Tapi sebenarnya ini adalah dua kondisi yang berbeda,” jelas dr. Tri pada media briefing di Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026). 

Debu dan Aktivitas Outdoor Bisa Memicu Bintitan

Paparan lingkungan disebut ikut meningkatkan risiko. Orang yang sering beraktivitas di luar ruangan, naik motor, atau terpapar debu lebih rentan mengalami penyumbatan kelenjar di kelopak. Debu dapat memicu penumpukan kotoran.

Baca juga: Sama-Sama Ada Benjolan, Ini Beda Bintitan dengan Tumor Kelopak Mata

Saat saluran tersumbat, infeksi lebih mudah terjadi. Akibatnya muncul pembengkakan dan benjolan.

Pada kasus hordeolum, dokter biasanya memberikan terapi antibiotik dalam bentuk tetes, salep, atau obat minum pada kondisi tertentu.

Sedangkan kalazion lebih sering ditangani dengan kompres hangat dan pijatan ringan di area kelopak.

Waspadai Bila Benjolan Muncul Lagi di Tempat yang Sama

Yang perlu diwaspadai adalah ketika benjolan terus berulang. Terutama bila lokasinya sama dan tidak membaik meski sudah diobati.

Menurut dr. Tri, kondisi itu bisa menjadi tanda bahwa masalahnya bukan lagi sekadar bintitan biasa.

“Sebenarnya tidak, tapi ada beberapa kondisi kelopak mata yang menyerupai bintitan. Terutama pada orang usia muda, bintitan berulang di tempat sama,” katanya.

Dalam kondisi seperti itu, dokter biasanya mempertimbangkan pemeriksaan jaringan untuk memastikan penyebabnya.

Ada Kanker Kelopak Mata yang Mirip Bintitan

Salah satu kondisi yang dapat menyerupai bintitan ialah karsinoma sebasea, yang merupakan jenis kanker kulit langka dan agresif yang bermula dari kelenjar sebasea (kelenjar minyak) di kulit.

Kanker ini paling sering menyerang kelopak mata (sekitar area mata) karena tingginya konsentrasi kelenjar minyak di area tersebut, meskipun bisa terjadi di bagian tubuh lain.

Pada tahap awal, tampilannya sering mirip benjolan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru menyadari setelah keluhan terus berulang.

Dr. Tri pernah menangani pasien usia sekitar 30 tahun yang datang dengan keluhan bintitan berulang. Awalnya dioperasi karena dicurigai benjolan biasa.

Namun keluhan kembali muncul di lokasi yang sama. Setelah pemeriksaan lanjutan, ternyata ditemukan keganasan. 

Karena itu, benjolan kelopak yang terus kambuh sebaiknya tidak dianggap normal.

Apalagi bila muncul di titik yang sama berulang kali.

“Ketika operasi berikutnya, kita akan melakukan pemeriksaan patologi anatomi untuk memastikan apakah ini murni bintitan, sel-sel radang, atau ada mengarah ke keganasan,” pungkasnya. 

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved