Rabu, 13 Mei 2026

Dongeng hingga Permainan Edukatif, YPBLC Bangkitkan Semangat Pasien Kanker Cilik di Bandung

Rumah YKAKI Bandung mendukung pemulihan psikologis anak pasien kanker melalui dongeng interaktif dan permainan edukatif.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC) saat mengunjungi Rumah YKAKI Bandung dalam program “Kasih Asa Luhur”. Anak-anak pasien kanker diajak mendengarkan dongeng berisi pesan-pesan tentang ketabahan, kejujuran, dan semangat pantang menyerah. 

Ringkasan Berita:
  • Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti menggelar program “Kasih Asa Luhur” di Rumah YKAKI Bandung untuk mendukung pemulihan psikologis anak pasien kanker melalui dongeng interaktif dan permainan edukatif.
  • Sesi dongeng bersama Kak Vira dan boneka “Epot” berhasil membangun semangat, mengurangi kecemasan, serta menanamkan nilai ketabahan dan pantang menyerah pada anak-anak.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Seringkali, obat terbaik tidak datang dalam bentuk pil atau cairan infus, melainkan dalam bentuk tawa dan imajinasi.

Inilah prinsip yang dibawa oleh Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC) saat
mengunjungi Rumah YKAKI Bandung dalam program “Kasih Asa Luhur”.

Dunia anak-anak seharusnya penuh dengan warna dan permainan, namun bagi pasien kanker, dunia mereka seringkali menyempit menjadi sebatas koridor rumah sakit dan jarum suntik.

YPBLC menyadari bahwa pemulihan fisik memerlukan dukungan mental yang sangat kuat melalui pendekatan edukatif dan interaktif.

Salah satu primadona dalam kegiatan ini adalah sesi dongeng anak interaktif bersama Kak Vira.

Dengan mengangkat tema semangat anak berbudiluhur, dongeng ini bukan hanya sekadar hiburan pengisi waktu.

Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc., selaku Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC).
Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc., selaku Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC). (HO/IST)

 

Di dalamnya terdapat pesan-pesan tentang ketabahan, kejujuran, dan semangat pantang menyerah.

Kehadiran boneka tangan bernama 'Epot' menjadi jembatan komunikasi yang efektif.

Anak-anak tidak merasa sedang diceramahi, melainkan sedang bermain bersama seorang teman baru yang sangat lucu.

Karakter Epot berhasil mencairkan suasana aula yang tadinya terasa sunyi.

Epot bukan sekadar boneka; ia adalah representasi dari karakter Budi Luhur yang ceria namun bijaksana.

Melalui interaksi dengan Epot, anak-anak diajarkan untuk tetap bersyukur dan berani menghadapi tantangan hidup.

Pesan moral kebudiluhuran disisipkan dengan sangat halus dalam setiap dialog.

Hasilnya, anak-anak yang tadinya terlihat lesu mulai menunjukkan binar mata yang cerah dan ikut tertawa lepas.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved