Mengapa Banyak Orang Cemas Menjelang Pensiun? Ini Penjelasan Psikolog
Kecemasan pensiun merupakan perasaan khawatir yang sering muncul sebelum, selama, atau setelah seseorang berhenti bekerja.
Ringkasan Berita:
- Kecemasan pensiun merupakan perasaan khawatir yang sering muncul sebelum, selama, atau setelah seseorang berhenti bekerja.
- Kekhawatiran yang umum terjadi meliputi masalah keuangan, kehilangan identitas diri, serta ketidakpastian mengenai masa depan.
- Para ahli menyarankan mempersiapkan kondisi finansial, membuat rutinitas baru, dan menemukan tujuan hidup di luar pekerjaan untuk mengurangi kecemasan saat pensiun.
TRIBUNNEWS.COM - Bagi banyak orang, masa pensiun mungkin terdengar seperti periode yang menyenangkan dan penuh harapan.
Namun, bagi sebagian lainnya, fase kehidupan ini justru diwarnai oleh perasaan cemas.
Mengutip Parade, para psikolog mengatakan bahwa kecemasan menghadapi pensiun atau retirement anxiety sebenarnya jauh lebih umum daripada yang dibayangkan banyak orang, dan dapat muncul dalam berbagai bentuk serta pada waktu yang berbeda, bahkan sebelum seseorang benar-benar berhenti bekerja.
Untungnya, para ahli yang diwawancarai dalam artikel ini mengatakan bahwa ada beberapa cara untuk mengurangi kecemasan tersebut sehingga seseorang dapat menikmati fase baru kehidupannya dengan lebih tenang.
Apa Itu Kecemasan Pensiun?
Menurut Raffi Bilek, seorang terapis dan Direktur Baltimore Therapy Center, kecemasan pensiun adalah perasaan khawatir dan tidak nyaman yang muncul ketika seseorang meninggalkan dunia kerja dan memasuki masa pensiun.
"Kecemasan ini dapat muncul ketika seseorang mulai mendekati masa pensiun, selama proses transisi, atau bahkan setelah benar-benar berhenti bekerja," jelasnya.
Bilek mengatakan beberapa kekhawatiran yang sering muncul saat seseorang mengalami kecemasan pensiun antara lain:
- Kekhawatiran mengenai kondisi keuangan.
- Kehilangan tujuan hidup dan identitas diri.
- Munculnya pikiran tentang kematian dan bertambahnya usia.
Menurut Dr. Nina Bakoyiannis, psikolog klinis berlisensi di SelfWorks, perasaan-perasaan tersebut sebenarnya sangat umum terjadi.
"Kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai pekerjaan sehingga identitas, rasa diri, dan tujuan hidup seseorang sering kali sangat terkait dengan pekerjaan mereka," ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat juga sering menggambarkan pensiun sebagai masa yang ideal, penuh waktu untuk bersantai, bepergian, dan menikmati hidup setelah puluhan tahun bekerja. Harapan yang tinggi ini terkadang justru menciptakan tekanan tersendiri.
Baca juga: 8 Poin Revisi UU Polri: Atur Jabatan Sipil hingga Usia Pensiun Anggota
Kapan Kecemasan Pensiun Mulai Muncul?
Ketakutan terhadap hal yang belum diketahui sering kali memicu kecemasan jauh sebelum suatu peristiwa terjadi.
Menurut Dr. Bakoyiannis, kecemasan pensiun dapat mulai muncul ketika seseorang mulai memikirkan perubahan identitas yang akan terjadi setelah kariernya berakhir.
"Bagi banyak orang, pekerjaan bukan hanya cara untuk menghabiskan waktu atau memperoleh penghasilan, tetapi juga bagian dari cara mereka mendefinisikan diri," katanya.
Pekerjaan sering dikaitkan dengan tujuan hidup, makna hidup, dan harga diri. Karena itu, ketika seseorang mulai membayangkan seperti apa kehidupannya setelah pensiun, berbagai perasaan tidak pasti dan kehilangan identitas dapat mulai muncul.
Cara Mengatasi Kecemasan Pensiun
Setelah memahami apa itu kecemasan pensiun dan kapan biasanya muncul, langkah berikutnya adalah menyusun rencana untuk menghadapinya.
Menurut Bilek, salah satu cara terbaik adalah mempersiapkan diri terhadap berbagai kekhawatiran yang umum terjadi.
Misalnya, memastikan kondisi keuangan cukup kuat untuk mendukung kehidupan setelah pensiun atau menyiapkan strategi jika kondisi finansial belum ideal.
Dr. Bakoyiannis menambahkan bahwa menciptakan struktur dan rutinitas harian juga sangat membantu, seperti:
- Menetapkan jadwal kegiatan sehari-hari.
- Berolahraga pada pagi hari.
- Mengikuti kegiatan sosial.
- Mengambil kursus atau kelas baru.
"Membuat rencana tentang bagaimana Anda akan mengisi waktu setelah pensiun sangatlah penting," kata Bilek.
Ia menyarankan untuk memikirkan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan, seperti membantu mengurus cucu, menjadi relawan, atau memulai hobi baru.
Menurutnya, memasuki masa pensiun tanpa gambaran yang jelas mengenai kegiatan sehari-hari dapat meningkatkan stres dan memperburuk kecemasan.
Dr. Bakoyiannis juga menekankan bahwa pensiun bukan berarti meninggalkan identitas profesional sepenuhnya.
"Yang terpenting adalah mengintegrasikan bagian-bagian lain dari diri Anda agar identitas tetap berkelanjutan," ujarnya.
Seseorang tidak lagi hanya melihat dirinya sebagai pekerja atau profesional, tetapi juga bisa menjadi mentor, teman, penulis, kakek atau nenek, musisi, dan berbagai peran lainnya.
Dengan cara pandang seperti ini, seseorang dapat membangun identitas baru yang lebih luas sekaligus mengurangi perasaan cemas dan kesepian saat memasuki masa pensiun.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KESEHATAN-MENTAL-Foto-ilustrasi-pensiun.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.