Minggu, 14 Juni 2026

Kenali Alergi Susu Sapi pada Anak, Gejala Mirip Masuk Angin atau Ruam Biasa

Ruam di kulit, diare berulang, perut kembung, hingga anak yang tiba-tiba menjadi lebih rewel sering kali dianggap sebagai masalah kesehatan biasa

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Adi Suhendi
WARTA KOTA/WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN
PERAH SUSU SAPI - Potret Pekerja sedang memerah susu sapi yang diternakan di Kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Kamis (24/2/2022). Alergi susu sapi merupakan kondisi yang perlu dikenali sejak dini karena dapat memengaruhi kenyamanan anak, asupan nutrisi, hingga tumbuh kembangnya. 

Pilihan yang tersedia antara lain formula terhidrolisa ekstensif (EHF) untuk alergi ringan hingga sedang, formula asam amino (AAF) untuk kondisi yang lebih berat, serta formula soya sebagai alternatif dalam kondisi tertentu.

Karena itu, proses diagnosis hingga pemilihan nutrisi tidak boleh dilakukan sendiri tanpa pengawasan tenaga medis.

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr dr. Ray Wagiu Basrowi MKK FRSPH mengatakan bahwa penanganan yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan nutrisi yang dibutuhkan anak.

"Tata laksana alergi susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berujung pada stunting," ujar dr Ray. 

Bahkan sejumlah studi menemukan risiko stunting dapat mencapai hingga 24 persen pada kelompok anak dengan alergi protein susu sapi.

Selain berdampak pada pertumbuhan fisik, kondisi ini juga dapat memengaruhi kualitas hidup anak secara keseluruhan.

Mulai dari aspek psikologis, sosial, hingga memberikan tantangan tersendiri bagi keluarga dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Orang Tua yang Harus Bolak-Balik ke Dokter

Pengalaman menghadapi alergi susu sapi pernah dirasakan Momfluencer Sandra Devita.

Sebagai ibu dengan anak yang mengalami alergi susu sapi, ia mengaku sempat bingung ketika melihat reaksi tertentu muncul setelah anak mengonsumsi susu.

Kondisi tersebut membuatnya harus berulang kali berkonsultasi ke dokter anak.

"Karena gejalanya tidak kunjung membaik, saya jadi bolak-balik ke dokter anak dan itu cukup menguras waktu, biaya, serta pikiran saya sebagai seorang ibu," katanya.

Dari pengalaman tersebut, Sandra menyadari pentingnya tidak mengambil kesimpulan sendiri mengenai kondisi anak.

Menurutnya, orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai kondisi masing-masing anak.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved