Desa Baleharjo, Inspirasi Gotong Royong Provinsi DIY lewat lnovasi

Satu inovasi desa dalam upaya membangun mental warga menjadi baik adalah pembentukan WKSBM di lima padukuhan (dusun). WKSBM bertujuan untuk mengatasi

Desa Baleharjo, Inspirasi Gotong Royong Provinsi DIY lewat lnovasi
Desa Baleharjo
Warga Desa Baleharjo. 

Pendamping Pertanian Desa Baleharjo, Budi Kuncoro mengatakan Desa Baleharjo meminta pendampingan pengelolaan tanaman hidroponik. Pada awalnya, pelatihan digelar di lima dusun yang ada di desa tersebut. Untuk kemudian, warga di lima dusun itu menjadi percontohan sehingga mengajarkan kepada warga lainnya di Desa Baleharjo ataupun di luar desa.

“Pelatihan dilakukan (bulan,-red) April menggunakan dana desa sebesar Rp 25 juta. Setelah bulan April mereka mengembangkan dan menanam sendiri-sendiri. Setelah 3-4 bulan, mereka merasakan panen pertama. Empat bulan panen kedua, mereka swadaya seperti ini,” kata Agus.

Pada awalnya, Agus mengungkapkan, warga merasa kesulitan untuk menanam tanaman hidroponik. Hal ini karena warga mengeluhkan mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk mulai menanam. Namun setelah difasilitasi pihak desa dan mendapatkan pelatihan, warga mulai berani untuk menanam di pekarangan mereka.

Upaya menanam tanaman hidroponik merupakan solusi bagi warga untuk dapat bercocok tanam di wilayah Gunung Kidul. Wilayah itu pada saat musim kemarau sering kali mengalami kekeringan sehingga warga kesulitan untuk menanam di lahan.

Tanaman Lidah Buaya merupakan primadona dari pengelolaan tanaman hidroponik. Selain itu, terdapat tanaman lainnya, seperti pokcay merah, sawi, kangkung, dan selada. Media menanam menggunakan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar, seperti gelas, botol plastik, ember plastik, dan styrofoam.

Tanaman lidah buaya yang jumlahnya cukup banyak oleh ibu-ibu Desa Baleharjo yang tergabung dalam kelompok wanita tani dijadikan minuman olahan es lidah buaya yang tidak hanya dinikmati keluarga tapi juga di jual secara umum.  “Kelompok tani wanita disini selain menjual olahan lidah buaya juga menjual bibit tanaman sayuran. Jualan pada hari Minggu, dengan keuntungan bisa mencapai Rp 300-500 ribu,” ungkap Agus yang mengajari ibu-ibu di Desa Baleharjo mengolah lidah buaya menjadi minuman segar.

Berkat mengelola tanaman hidroponik manfaat besar dirasakan oleh masyarakat desa. Selain Hasil panen tanaman itu dapat dikonsumsi sendiri bisa juga dijual jika jumlahnya berlebih dan ada permintaan. Kini, warga Gunung  Kidul tidak lagi kesulitan mendapatkan sayur-sayuran segar pada waktu musim kemarau.

“Berkat kegiatan hidroponik  warga mendapat keuntungan seperti mengurangi pengeluaran dan didapatkan sayuran sehat, karena kami sama sekali tidak pakai pestisida. Bisa menanam tanpa tanah, karena Gunung Kidul kadang kemarau, keterbatasan air”, urai Agus.

Lestarikan Kesenian Peninggalan Nenek Moyang

Selain memberikan pelatihan hidroponik, pemanfaatan dana desa untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), juga dilakukan dengan berbagai cara, seperti lomba pemanfaatan pekarangan, pelatihan membatik untuk PKK, pelatihan untuk memanfaatkan limbah atau sampah dengan membuatnya menjadi kerajinan tangan dan melestarikan seni budaya lokal, antara lain membentuk kelompok-kelompok seni reog, kethoprak, kenduri, dan lain-lain.

Halaman
1234
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved