Sabtu, 9 Mei 2026

Semangat dan Harapan Baru bagi Penyintas Bencana dari Balik Pintu Huntara

Huntara Satgas PRR di Pidie Jaya dan Aceh Tamiang jadi ruang bagi penyintas untuk bangkit dan menata kembali ekonomi keluarga pascabencana.

Tayang:
Editor: Content Writer
dok. Kemendagri
PEMULIHAN EKONOMI - Reni (47), seorang penyintas bencana hidrometeorologi, sedang mengolah jajanan di warung kecilnya yang terletak di lingkungan hunian sementara (huntara) kawasan Kantor Bupati Pidie Jaya, Selasa (5/5/2026). 

TRIBUNNEWS.COM - Hunian sementara (huntara) yang dibangun Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera kini beralih fungsi lebih dari sekadar tempat bernaung. 

Bagi para penyintas, huntara ini menjadi titik awal untuk merajut kembali harapan dan menata kehidupan yang sempat terhenti akibat bencana. 

Geliat pemulihan tersebut sangat terasa di kompleks huntara kawasan Kantor Bupati Pidie Jaya, Aceh. Salah satu potret denyut pemulihan itu ditunjukkan oleh Reni (47), penyintas bencana hidrometeorologi, yang perlahan membangun kembali perekonomian keluarganya melalui usaha makanan kecil di lingkungan huntara.

Banjir yang menerjang saat itu membuat rumah Reni tertimbun lumpur. Ia bersama keluarga harus meninggalkan tempat tinggalnya dan memulai hidup dari awal. Namun di tengah keterbatasan, Reni memilih bangkit.

Setiap hari, ia mengolah berbagai jajanan seperti risol, tahu goreng, timpan, hingga bakso goreng dari dapur sederhana di kawasan huntara. Dari usaha kecil itu, ia mencoba memenuhi kebutuhan keluarga sambil menunggu proses pemulihan berjalan sepenuhnya.

Dengan modal awal Rp200 ribu hasil pinjaman dari teman dan peralatan dapur yang ia dapatkan dari bantuan Satgas PRR, Reni memulai usahanya secara perlahan. 

Baca juga: Satgas PRR Salurkan Rp1,9 Triliun untuk Revitalisasi Ruang Kelas Nyaman di Wilayah Terdampak

Kini, di depan deretan huntara tempatnya tinggal, berdiri warung kecil yang setiap hari ramai didatangi warga sekitar. Kedua putrinya juga ikut membantu menjaga dagangan saat sang ibu memasak.

Bagi Reni, keberadaan huntara memberi ruang aman bagi keluarganya untuk kembali menyusun kehidupan setelah kehilangan rumah akibat bencana.

“Alhamdulillah sekarang bisa jualan lagi. Hasilnya memang belum bisa ditabung banyak, tapi cukup untuk makan sehari-hari dan jajan anak-anak,” kata Reni saat ditemui, Selasa (5/5/2026)

Semangat serupa juga dirasakan Siti Asyiah, warga Desa Sekumur, Kelurahan Sekerak, Aceh Tamiang, Aceh,  yang sempat tinggal selama lima bulan di tenda pengungsian sebelum akhirnya menempati huntara. 

Ia mengaku kondisi tempat tinggal sementara yang lebih layak membuat keluarganya perlahan dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Terima kasih kepada pemerintah. Kami berharap huntara yang belum selesai bisa segera rampung, dan huntap juga cepat dibangun,” ujar Siti.

Baca juga: Satgas PRR Libatkan Warga Lewat Cash for Work, 658 Lokasi Bebas Lumpur

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved