Sungai Akelamo, Saksi Pentingnya Interaksi Manusia dan Alam untuk Wujudkan Good Mining Practices
Pulau Obi di Maluku Utara bukan sekedar titik di peta Indonesia. Ia adalah ruang hidup yang memeluk hutan tropis dan aliran jernih Sungai Akelamo.
Oleh:
Muhammad Sonny Abfertiawan
Dosen dan Peneliti – Kelompok Keahlian Rekayasa Air dan Limbah Cair, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung
TRIBUNNEWS.COM - Inti dari pertambangan adalah sebuah paradoks: manusia menggali jauh ke dalam Bumi untuk membangun masa depan, tetapi seringkali dinilai merusak sistem yang menopang kehidupan.
Sebaliknya, sungai mengalir dengan lembut dan terus-menerus—membentuk lembah, menopang ekosistem, menawarkan kehidupan tanpa merampas. Di tempat penambang mengebor, sungai menyembuhkan; di tempat industri mengekstraksi, sungai mengingatkan kita akan keberlanjutan.
Secara filosofis, hubungan antara pertambangan dan sungai seringkali menunjukkan ketegangan antara antroposentrisme—keyakinan bahwa alam ada untuk digunakan manusia—dan ekosentrisme, yang memandang alam memiliki nilai intrinsik di luar kegunaan manusia.
Pertambangan mewakili dorongan Promethean manusia: untuk mengendalikan (to control), membentuk ulang (to reshape), dan mengekstraksi (to extract). Namun, sungai melambangkan kebijaksanaan yang berbeda—kearifan adaptasi, aliran, dan timbal balik.
Ketika kita menambang tanpa berpikir, kita berisiko memutuskan ikatan kuno antara manusia dan alam, mereduksi Bumi menjadi sumber daya daripada ikatan atau hubungan. “Nature is not just raw material—it’s a structured, meaningful system”, begitu kata Aristotle (384 BC–322 BC).
Pertanyaan sebenarnya adalah: Bisakah kita menambang secara etis? Bisakah kita menggali tanpa merusak aliran?
Masa depan yang berkelanjutan bukanlah dengan menghentikan kegiatan ekstraksi, tetapi dengan menata ulang ketentuan-ketentuan ekstraksi kita—dengan kerendahan hati, pengendalian diri, dan rasa hormat terhadap sistem yang lebih tua dan lebih bijaksana daripada kita. Bagi Heraclitus (535 BC – 475 BC), seorang filsuf Yunani kuno, kebijaksanaan terletak pada pemahaman aliran alam, bukan pada upaya untuk mendominasinya.
Perjalanan 4000 Km dari Kota Bandung, ditempuh tim peneliti dari Kelompok Keahlian Rekayasa Air dan Limbah Cair, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, menuju Pulau Obi, ke site pertambangan milik Harita Nikel.
Bagi Kami, Pulau Obi di Maluku Utara bukan sekedar titik di peta Indonesia. Ia adalah ruang hidup, lanskap indah yang memeluk hutan tropis, aliran jernih Sungai Akelamo, dan perut bumi yang kaya akan nikel—logam yang kini jadi kunci bagi revolusi energi global.
Kami menelusurinya, yang mengalir dari Danau Karo hingga bermuara di Laut Maluku. Sungai Akelamo itu mengalir deras dengan semangat yang bersemangat, arusnya deras dan tak henti-hentinya, berkelok-kelok (meandering) melalui daratan seperti benang perak yang ditarik kencang di atas bumi.
Meskipun tidak dalam—permukaannya yang jernih dan beriak memperlihatkan bebatuan dan mineral-mineralnya yang berumur Pra-Tersier hingga Kuarter dan ikan-ikan yang berenang cepat di bawahnya—lebarnya membentang dengan murah hati, merangkul tepian sungai dengan tangan terbuka. Ia membawa suara, bisikan lembut dan deras yang bergema melalui pepohonan.
Di kedua sisi, morfologi lanskap terbentang dalam keagungan yang tenang: pepohonan dan alang-alang tinggi bergoyang berirama tertiup angin, dan bukit-bukit di kejauhan menjulang lembut seperti penjaga aliran.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
A member of
Follow our mission at www.esgpositiveimpactconsortium.asia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Muhammad-Sonny-Abfertiawan-bersama-kelompok-peneliti-sungai-akelamo.jpg)