Minggu, 19 April 2026

Yuk Kunjungi Pulau Rambut, Rumahnya Para Unggas

Pulau Rambut, merupakan salah satu rantai dari kepualauan seribu.Tempat ini kiranya layak dikunjungi.

Penulis: ricas74

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Iman Suryanto

TRIBUNNEWS.COM - Pulau Rambut, merupakan salah satu rantai dari kepualauan seribu yang berada di kawasan Kabupaten Tanggerang. Tempat ini kiranya layak dikunjungi.

Menurut warga setempat pemberian nama Pulau Rambut berawal dari sebuah cerita yang telah melegenda. Konon ada bidadari yang turun dari kayangan turun mandi melihat pulau yang tidak ditumbuhi sebatang pohon.

Sedangkan disitu banyak sekali burung bangau yang menghuni pulau, sang bidadari kemudian mencukur (=maaf) rambut kemaluannya dan disebarkan di atas pulau itu dan berubah menjadi pohon bakau yang sampai sekarang menjadi tempat burung-burung bangau penghuni pulau.
Pulau ini banyak di tumbuhi hutan bakau yang rimbun serta terumbu karang yang sangat indah. Orang Belanda menyebut pulau ini dengan nama Nidelberg.

Pulau Rambut ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui Surat Keputusan Nomor : 275/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999 seluas 90 hektar, yang terdiri dari 45 hektar daratan dan 45 hektar wilayah perairan.

Secara geografis kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut terletak diantara 106 derajat 41'14 - 106 derajat 41'46 Bujur Timur dan 5 derajat 56'47 - 5 derajat 56'57 Lintang Selatan, yaitu kearah Barat Laut dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Sedangkan menurut administrasi pemerintah, Suaka Margasatwa Pulau Rambut termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Pulau Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Pulau Rambut, acap disebut sebagai "surga burung". Pulau seluas 90 hektar, 45 hektar di antaranya adalah wilayah daratan, ini memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, baik flora maupun fauna.

Untuk menuju Pulau Rambut, Anda dapat menggunakan speedboat dari Marina Ancol dengan waktu tempuh sekitar 30 menit, dari Muara Angke dengan perahu motor (sekitar 90 menit), dari Pelabuhan Kamal dengan perahu motor (sekitar 60 menit), dan dari Tanjung Pasir, Tangerang, dengan perahu motor (sekitar 30 menit).

Yang menarik dari pulau rambut adalah sebagian besar fauna penghuninya adalah burung. Sebanyak 22 jenis burung merandai (burung air) dan 39 jenis burung darat. Sebagian besar burung air atau burung laut adalah burung penetap yang menghuni Pulau Rambut sepanjang tahun burung-burung ini memiliki perilaku migrasi ke Pulau Jawa atau pulau lain di Kepulauan Seribu untuk mencari makan pada pagi hari dan kembali ke Pulau Rambut secara bergerombol terbang menuju pulau pada sore hari untuk beristirahat dan tidur malam.

Adapun jenis-jenis burung yang menghuni pulau rambut antara lain Jenis burung laut antara lain cangak merah (Ardea purpurea), cangak abu (Ardea cinerea), kuntul besar (Egretta alba), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul karang (Egretta sacra), bluwok (Mycteria cinerea), roko-roko (Plegadis falcinellus) , pecuk ular (Anhinga melanogaster) , kuntul sedang (Egretta intermedia), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).

Areal yang juga dipenuhi dengan hutan pantai atau bakau yang dipenuhi dengan dengan pandan (Pandanus tectorius) dan semak belukar serta menjadi sebuah pulau yang terkena pasang surut sehingga sangat mudah sekali untuk bisa menemukan berbagai jenis tanaman , tumbuhan hingga satwa yang menempati kawasan air berpayau tersebut.

Sebut saja waru laut (Thespesia populnea), Cemara laut (Casuarina equisetifolia), Akasia dan beberapa tumbuhan lamtoro yang bukan asli dari daerah sini pun terlihat tumbuh dengan sangat cepat dan berkembang dikawasan ini.

Sementara itu kawasan Mangrove dan hutan yang dipenuhi berbagai jenis pohon berbagai ukuran dengan dipenuhi air payau yang memiliki luas area yang mencapai sepertiga dari luas keseluruhan Pulau Rambut.

"kawasan Pulau RAmbut ini menjadi sebuah cagar alam yang di setujui oleh pemerintan dimana para burung-burung yang singgah maupun bermigrasi setiap wakrunya, jadi istilahnya Pulau Rambut ini menjadi "surganya para Unggas (Burung) dalam jumlah yang sangat banyak dan bervariasi," terang Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Ka BKSDA) DKI Jakarta, Ir. Ahmad Saerozi kepada Tribunnews, Minggu(5/6/2011).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved