Breaking News:

Karbohidrat Dibutuhkan Anak Dalam Usia Tumbuh Kembang

Produsen nutrisi untuk ibu dan anak, PT Sari Husada, kembali mengadakan program rutin bulanan Nutritalk

zoom-inlihat foto Karbohidrat Dibutuhkan Anak Dalam Usia Tumbuh Kembang
tribunnews.com/oro
Yeni Fatmawati, Corporate Affairs and LEgal Director Sari Husada sedang memperkenalkan tampilan baru situs dan akun Nutrisi Untuk Bangsa

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Produsen nutrisi untuk ibu dan anak, PT Sari Husada, kembali mengadakan program rutin bulanan Nutritalk yang memberikan edukasi nutrisi dan kesehatan dengan menghadirkan para pakar yang relevan di bidangnya.

Corporate Affairs and Legal Director Sari Husada Yeni Fatmawati mengatakan, Nutritalk kali ini dengan topik Nutrisi Tepat dan Presisi Diperlukan Untuk Tumbuh Kembang Anak, hal ini menjadi pokok bahasan, karena ibu harus memperhatikan pola makan yang seimbang dengan berbagai nutrisi yang sesuai pada anak sehingga asupan nutrisi menjadi tepat dan presisi guna menunjang energi dan aktivitas fisik serta perkembangan otaknya.

"Kami harap edisi kali ini dapat menambah wawasan kita bahwa untuk mencapai tumbuh kembang optimal anak, terutama kinerja otaknya, diperlukan berbagai jenis nutrisi yang berpadu dalam tingkatan dan jumlah yang presisi, sesuai dengan usia anak," kata Yeni.

Ahli Teknologi Pangan dan Gizi dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS, dalam paparannya mengatakan, klaim bahwa satu jenis zat gizi saja bisa mendorong pertumbuhan kecerdasan otak harus dicermati kebenarannya. Karna salah satu unsur nutrisi yang paling dibutuhkan anak dalam usia tumbuh kembang adalah karbohidrat.

Di dalam sistem pencernaan, karbohidrat akan dirubah menjadi glukosa dan diolah menjadi energi. Selain itu, karbohidrat juga berfungsi untuk memastikan protein dapat berperan sebagai zat pembangun, dan memastikan optimalisasi fungsi otak anak.

Pertumbuhan otak berbeda pada setiap anak, tergantung nutrisi yang dikonsumsi, faktor genetik dan stimulasi yang diberikan, terutama pada masa emas, yaitu usia 0-3 tahun.

"Dalam bekerja, otak hanya dapat mempergunakan glukosa sebagai sumber energi, sementara cadangan energinya sangat sedikit. Oleh karena itu, ketersediaan glukosa dari beragam sumber secara konstan harus tetap dijaga agar otak bekerja dengan baik," ujar Prof. Made.

Glukosa bisa didapat dari bahan alami seperti dalam gula tebu (yang mengandung sukrosa). Sukrosa di dalam tubuh akan dipecah menjadi glukosa dan fruktosa. Selain itu ada juga Isomaltulosa yang senyawanya mirip dengan sukrosa (gula pasir). Isomaltulosa dan sukrosa sebagai karbohidrat berjenis disakarida sama-sama dipecah menjadi glukosa dan fruktosa di dalam sistem pencernaan.

Isomaltulosa secara alami dalam jumlah yang sangat sedikit bisa dijumpai dalam madu. Namun untuk produksi dalam jumlah besar (kepentingan industri) Isomaltulosa dibuat melalui proses yang menggunakan enzim sehingga sering dianggap menyerupai proses pembuatan pemanis buatan.
Penting untuk diingat bahwa supaya mampu mendapatkan manfaat yang maksimal, jumlah asupan isomaltulosa harus maksimal, yaitu 20 gram dari 100 gram penyajian (dalam susu, misalnya).

Yang belum banyak disadari adalah, perkembangan otak didukung oleh banyak jenis nutrisi, artinya tidak ada satupun nutrisi yang bisa dikatakan paling penting. Selain glukosa sebagai sumber energi bagi otak, diperlukan pula asam lemak esensial (DHA, AA), kolin dan zinc, yang apabila dipadukan dalam jumlah yang presisi akan memiliki peranan yang sama pentingnya dalam memaksimalkan perkembangan dan fungsi otak.

Tentunya agar berbagai jenis nutrisi di atas dapat bekerja dengan optimal, diperlukan sistem pencernaan yang sehat. Saluran cerna sehat akan memanfaatkan nutrisi dengan baik guna tumbuh kembang anak secara optimal.

Guru Besar Ilmu Pediatri Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Prof. Muh. Juffrie, SpA(K) menambahkan, sangatlah penting untuk memastikan saluran cerna anak dalam kondisi sehat karena proses pencernaan makanan terjadi sebelum makanan diabsorbsi atau diserap oleh dinding saluran pencernaan. Zat-zat makanan tidak dapat diserap dalam bentuk alami dan tidak berguna sebagai zat nutrisi sebelum proses pencernaan awal. Hasil dari proses tersebut kemudian disebarkan ke seluruh tubuh untuk menjadi energi untuk beraktivitas.

Begitu pula dengan karbohidrat. Zat ini diproses di dalam mulut dan usus halus, yang akan memecah molekul karbohidrat menjadi monosakarida yang bisa diserap usus dan masuk ke peredaran darah. Proses ini membutuhkan waktu, tergantung dari jenis karbohidrat yang dikonsumsi. Karbohidrat yang dapat langsung dipergunakan untuk energi di otak adalah glukosa, sedangkan karbohidrat dalam bentuk disakarida seperti sukrosa atau isomaltulosa tidak dapat bereaksi secara langsung untuk dipergunakan sebagai energi untuk otak.

Penulis: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved