Senin, 13 April 2026

Lestarikan Wayang Lewat Pentas Berbahasa Indonesia

Pagelaran wayang kulit selama menggunakan bahasa Jawa dan dilakukan semalam suntuk nampaknya perlu dievaluasi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Pagelaran wayang kulit selama menggunakan bahasa Jawa dan dilakukan semalam suntuk nampaknya perlu dievaluasi. Artinya setiap pagelaran wayang, dalam harus menggunakan bahasa Indonesia sehingga dimengerti  bukan hanya orang Jawa. Durasi pertunjukannya tidak terlalu lama, kira kira cukup dua  jam saja.
    
Cerita juga harus  disesuaikan dengan kondisi sekarang namun cerita bersumber dari Mahabharata dan Ramayana. Wayang  perlu dikenalkan sejak sedini mungkin kepada anak sekolah SD melalui pelajaran kesenian dan budi pekerti. Pagelaran wayang dapat dijadikan visualisasi dari cerita wayang yang diajarkan disekolah.
    
Hal ini mengemuka dalam diskusi wayang bertema Quo Vadis Wayang Indonesia? di Hotel Santika Premiere Jakarta belum lama ini. Sebagai pembicara Ekotjipto SH (Ketua Umum Pepadi Pusat), dr Subagyo (penasihat Pepadi,anggota Komisi III DPR RI), Drs Bambang Murtiyoso SKar MHum (Dosen ISI Surakarta), Nanang HP (pelaku seni), dan Enthus Susmono (dalang).
    
"Sekarang ini, penonton fanatik wayang makin dikit sementara yangi muda jarang menggunakan bahasa Jawa di rumah, di masyarakat bahkan lebih suka berbahasa asing. Padahal wayang tanpa pagelaran itu mati, pagelaran tanpa penonton bukan wayang," tutur Subagyo dalam diskusi yang diselenggarakan oleh PT Bank Central Asia (BCA) dan kerja sama dengan Kompas TV ini.
    
Dalam kesempatan yang sama, Ekotjipto, SH memandang perlunya regenerasi seniman pedalangan (dalang, pengrawit, swarawati, pembuat wayang, pembuat gamelan). Untuk itu perlu pembinaan dan revitalisasi sanggar-sanggar pedalangan dan memperluas pendidikan formal seperti SMKI, ISI, STSI.
    
Juga memperbanyak dan memperluas pergelaran wayang di masyarakat, secara periodik melaksanakan festival secara berjenjang mulai dari tingkat Kabupaten/ Kota, Provinsi dan Tingkat Nasional. Di samping itu juga melaksanakan program pergelaran wayang di televisi  minimal sebulan sekali.
    
Dalang Enthus Susmono, pemerintah harus menerbitkan instruksi presiden (inpres) agar setiap hari raya nasional semisal 17 Agustus, tiap daerah diwajibkan menggelar festival wayang.

"Dengan komitmen besar yang melibatkan seluruh elemen masyarakat itu, wayang makin lama semakin dikenal dan dicintai masyarakatnya sendiri. Karena dikenal, wayang semakin disayang," tuturnya.

Ukuran Tetap
    
Untuk tetap melestarikan tidak perlu perubahan bentuk fisik wayang, ukuran, nama dan karakter wayangnya tetap. Jika  bentuk baru pagelaran wayang tersebut dapat diwujudkan, maka wayang bukan hanya lestari, tetapi berkembang, kan terbangun karakter positif masyarakat Indonesia sebagaimana dicontohkan oleh tokoh tokoh wayang.
    
Di masa lalu,  wayang memberikan manfaat besar kepada penontonnya. Selain sebagai hiburan, juga berfungsi sebagai pedoman hidup. Menurunnya animo nonton wayang dikalangan generasi muda jawa berdampak menurun-nya kualitas budi pekerti sebagian rakyat Indonesia khususnya orang Jawa.
    
"Kerugian yang kita alami sebagai akibat turunnya animo orang jawa dapat kita jadikan momentum untuk menghidupkan kembali animo nonton wayang, tetapi tidak hanya untuk orang jawa, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia," tuturnya.
    
Melalui wayang diharapkan terbangun karakter positif seperti kejujuran, kesederhanaan, ketulusan, kasih sayang, cinta tanah air dan bangsa, keberanian, rasa hormat, setia kawan, hormat orang tua dan guru, rajin, tekun, sabar, dan sebagainya.  Kalau ini semua dapat terwujud, maka terjadilah pelestarian budaya dan sekaligus terbangunlah karakter bangsa.

Baca Juga: Wayang Mengalir Sesuai Zaman

Wayang: Tontonan, Tuntunan, dan Karakter Bangsa

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved