SDM Masih Jadi Kendala di Sentra Batik Tasikmalaya
Batik tulis dan cap adalah salah satu komoditas Tasikmalaya.
Penulis:
Daniel Ngantung
Editor:
Rendy Sadikin
TRIBUNNEWS.COM, TASIKMALAYA - Batik tulis dan cap adalah salah satu komoditas Tasikmalaya. Di antara kedua itu, batik tulis khas Tasikmalaya menjadi favorit. Sayang, produksinya masih terkendala oleh ketersediaan sumber daya manusia.
Ade Suryana, pemilik Batik Nanda mengatakan jumlah perajin batik tulis masih sangat terbatas. Belum banyak generasi penerus yang mau melanjutkan batik tulis. "Anak muda yang berminat membatik masih minim sekali," ujar Ade saat ditemui Tribunnews.com di gerainya di sela kunjungan Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Minggu (13/4/2014) siang.
Saat ini Nanda Batik memiliki 13 perajin yang didominasi mereka yang usianya mendekati usia lanjut. Sebagai solusi, Ade sudah mulai melakukan sosialisasi dan pendekatan masyarakat setempat, khususnya kaum muda. Tenaga yang terbatas juga membuat waktu produksi menjadi cukup lama.
Tiap bulannya, Nanda Batik hanya mampu memproduksi satu kodi batik tulis. Jumlah tersebut berbanding jauh dengan jumlah produksi batik cap yang bisa mencapai 2.000 potong. "Padahal batik tulis cukup diminati," ungkapnya. Batik yang motifnya telah dimodifikasi, kata Ade, yang paling difavoriti pembeli.
Satu potong pakaian batik tulis dibanderol mulai dari Rp400 ribu. Nanda Batik mendistribusikan batiknya ke berbagai kota di Jawa Barat dan DKI Jakarta.(Daniel Ngantung)