Jumat, 22 Mei 2026

Menikmati Eloknya Pura Pasar Agung Giri Toh Langka

"Letaknya sama seperti Pura Besakih. Hanya saja, pura ini berada di tengah Gunung Agung," ujar pemandu wisata pendaki Gunung Agung, I Made Suardita.

Tayang:
Editor: Y Gustaman
Tribun Bali/Saiful Rohim
Pura Pasar Agung Giri Toh Langka di Karangasem, Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Saiful Rohim

TRIBUNNEWS.COM, BALI - Banyak keindahan dan keunikan yang tersaji di atas Gunung Agung, Karangasem. Selain keindahan alam, terlihat pula bangunan lama yang berdiri di pertengahan jalan menuju puncak gunung tertinggi di Provinsi Bali.

Bangunan lama tersebut ini berupa pura yang konon telah berdiri sejak ratusan tahun silam. Tempat suci ini bernama Pura Pasar Agung Giri Toh Langka, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem.

"Letaknya sama seperti Pura Besakih. Hanya saja, pura ini berada di tengah Gunung Agung. Para pemedek banyak yang bersembahyang di sini, ada pemedek dari Buleleng, Gianyar, Tabanan, dan Klungkung," ujar pemandu wisata pendaki Gunung Agung, I Made Suardita, Minggu (15/6).

Pura Pasar Agung ini berada di punggung barat Gunung Agung. Kita menghadap ke timur atau berhulu ke puncak atau luhur Gunung Agung. Sementara puncak gunung atau di kepundan/kawahnya berada pada ketinggian 3.400 meter di atas permukaan laut. Di lokasi ini ada Pura Puser Tasik, lokasi untuk mulang pakelem.

Di bagian bawah palebahan Pura Pasar Agung juga terdapat Pura Melanting. Bersamaan dengan pujawali di Pura Pasar Agung, umat juga melakukan persembahyangan di Pura Melanting.

Dari pantauan Tribun Bali, Pura Pasar Agung yang letaknya di badan Gunung Agung terlihat ramai dikunjungi para pemedek. Kebanyakan para pemedek yang nangkil ke Pura Pasar Agung bersama rombongan. Satu di antaranya pemedek asal Banjarangkan, Klungkung, Ni Nengah Sumiati.

Wanita yang memiliki dua anak ini mengaku menempuh perjalanan dari Klungkung hingga Pos Pendakian Pasar Agung sekitar 2,5 jam.

"Ditambah lagi waktu untuk mendaki gunung, agar bisa bersembahyang di Pura Pasar Agung Giri Toh Langka. Tapi ini semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Ida Shang Hyang Widhi Wasa," ujarnya.

Sesampai di Pos Pendakian Pasar Agung, Sumiati harus melewati beberapa ratus tangga untuk bisa bersembahyang di Pura Pasar Agung Giri Toh Langka. Tak hanya Sumiati, suaminya, I Kadek Sanjaya, serta dua orang anaknya yang masih terlihat kecil turut ikut serta melewati beberapa ratus tangga.

"Kalau capek, ya istirahat dulu sambil menikmati keindahan alam di sekitar Gunung Agung. Kalau sudah enak, perjalanan kita lanjutkan lagi. Nggak usah terlalu dipaksa," tambah Sumiati.

Sanjaya mengakui, perjalanan menuju Pura Pasar Agung memang melelahkan. Pasalnya, mereka harus melewati ratusan tangga yang dibuat mengeliling, serta kondisi jalan yang menanjak. "Untung jalan sudah bagus. Tapi tetap terasa capek kalau sampai pura. Biasanya kalau capek kita istarahat," tambah Sanjaya.

Suardita menambahkan, Pura Pasar Agung Giri Toh Langka ini memang ramai dikunjungi para pemedek. Apalagi ketika rerahinan besar, seperti Purnama, Tilem, serta Galungan dan Kuningan. "Hanya saja, pemedek yang berkunjung ke sini tak sebanyak pemedek yang berkunjung ke Pura Besakih di Rendang," aku Suardita.

Pujawali di Pura Pasar Agung berlangsung setiap Purnama Kalima. "Pura Pasar Agung Giri Toh Langka akan tambah ramai dikunjungi para pemedek, mendekati upacara Panca Wali Krama. Upacara ini biasanya dilakukan tiap bulan Oktober. Pemedek yang datang dari seluruh daerah di Provinsi Bali," imbuhnya.

Suardita menceritakan sedikit sejarah Pura Pasar Agung Giri Toh Langka. Menurut pemandu wisata Gunung Agung ini, Pura Pasar Agung telah lama ada. "Sebelum Gunung Agung meletus pura ini sudah ada. Sekitar di bawah tahun 1960-an," tambahnya.

Di pura ini terdapat sejumlah palinggih berupa meru, gedong, sanggar agung bale papelik, panggungan, balai gong, dan balai pawedaan. "Dulunya bangunan pura tak seperti ini. Bangunan pura masih sederhana. Hanya saja, di pura ini sudah ada pelinggih yang usianya terbilang tua, dan dalam kondisi sederhana pula. Tapi saat ini Pura Pasar Agung Giri Toh Langka sudah banyak mengalami perbaikan," tegasnya.

Pura Pasar Agung disanggra warga 16 desa, Kecamatan Selat, serta pangempon ngarep empat desa pakraman terdekat yakni Sogra, Sebudi, Bukit Galah dan Pemaksan Sebun.

Saat pujawali diyakini Ida Batara tedun (turun) melihat jagat raya beserta isinya, dan sekaligus menganugerahkan keselamatan, perlindungan, kesejahteraan, kerahayuan serta kesuburan dan hasil panen pertanian yang melimpah.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved